Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
0

Dua Malam di Djogja

Posted by Unknown on 23.11 in


Malam minggu itu hanphone saya berdering dengan bunyi khasnya. Ternyata ada sebuah pesan masuk watsap yang secara khusus ditujukan kepada saya. Ternyata isinya perintah dari Kaprodi saya PIAUD (Pendidikan Islam Anak Usia Dini)—dimana posisi saya adalah menjadi Sekprodinya—untuk hadir serta dalam sebuah acara di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Rasa sebel seketika muncul, di saat waktunya orang libur kerja dan bercengkerama dengan keluarga, saya malah harus pergi ke Yogyakarta sebagai delegasi kampus. Tapi tak apa lah, sebagai seorang bawahan sudah barang tentu saya harus menaati apa yang menjadi perintah atasan saya.

            Minggu pagi tepat pukul 05.00 WIB saya berpamitan dengan istri, Ibu-Bapak mertua, serta Bapak-Ibu kandung saya untuk pergi ke Yogyakarta, tepatnya ke kampus UIN Sunan Kalijaga. Terlebih dahulu saya harus menempuh perjalanan bersepada motor ke Terminal Rajakwesi Bojonegoro. Disana Kaprodi saya yang cantik jelita menunggu dengan travel yang sudah dipesan, tak lupa sebelumnya ia juga memesankan satu kursi untuk saya. Sepeda butut milik saya itu kutitipkan di penitipan depan terminal, sambil mengecek barang bawaaan saya. Suara seorang perempuan memanggil-manggil saya, ternyata dari kejauahan Bu Kaprod memanggil dan menghampiri saya. Kamipun menunggu datangnya mobil elf, kendaraan travel yang sudah dipesan sebelumnya. 

            Pukul 08.30 WIB elf itu baru tiba di tempat tunggu kami. Kamipun memasukkan barang-barang dan naik, lalu duduk di kursi elf yang nyaman sekali. Perjalanan menuju Kota Yogyakarta pun dimulai, naik gunung, turun gunung, dan melewati beberapa perbukitan yang curam. Mata tertidur di dalam elf, hanya beberapa kota saja yang bisa saya nikmati saat terjaga, sebut saja Ngawi, Solo, Surakarta, dan Sragen. Tentu saat sampai di Yogyakarta, mata ini ku paksa untuk terbuka, menikmati panorama Yogya yang aduhai indahnya. Tepat pukul 13.45 WIB, kami berdua sampai di Kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Elf yang tua itu membawa kami masuk ke dalam kampus, dan memberhentikan kami di depan masjid kampus yang di depannya terpampang tulisan “Laboratorium Agama”. Memang benar, masjid adalah laboratorium agama yang nyata dan hidup sebagai jantung spiritualitas dan intelektualitas kaum muslim. Namun sepertinya fungsi yang kedua ini mulai hilang, seiring runtuhnya masa kejayaan Islam di akhir masa Daulah Abbasiyah. 

Hati ini senang sekali, sampai di kampus yang konon terkenal dengan aroma akademiknnya yang kental, terutama dalam kajian pemikiran-nya. Sebut saja tokoh-tokoh jebolan kampus ini, Prof. Mukti Ali, Prof. Nurcholis Madjid, Prof. Amin Abdullah dan lain-lain. Selain itu dari rahim Yogyakarta juga terlahir tokoh-tokoh pemikir kaliber dunia lainnya, seperti Prof. Kuntowijoyo, Ahmad Wahib, Prof. Dawam Rahardjo, Prof. Syafi’i Ma’arif, Prof. Amin Rais, dan lain-lain. Selain itu juga ada Emha Ainun Najib, budayawan-intelek yang terbentuk dari sini. Mereka semua tertempa oleh iklim dan kultur akademik-intelektual yang sangat intens di Yogyakarta ini, sehingga dapat kita lihat bagaimana karya dan peran mereka di masyarakat.

Blandongan di Malam Pertama
            Saya beristirahat beberapa waktu di masjid kampus UIN Suka, sembari shalat dzuhur dan ashar. Sampai ada seseorang menjemput saya, ia adalah saudara Muttaqin, seorang mahasiswa asal Tuban dan bagian dari pengurus KPMRT (Keluarga Pelajar Mahasiswa Ronggolawe Tuban). Mas Muttaqin membawa saya di tempat yang sangat terkenal di kalangan mahasiswa Jogja, yaitu warung kopi “Blandongan”. Sudah lama saya mendengar akan eksotisnya Blandongan, bagi orang yang tak suka ngopi, mungkin tempat ini tak ubahnya warung kumuh penyedia tempat 24 jam bagi mahasiswa yang malas kuliah dan mengerjakan tugas, dan yang lebih parah lagi adalah tempat penyebab mahasiswa S1 lulus empatbelas semester. Akan tetapi bagi saya, tempat ini adalah surga. Ya, surganya orang yang memiliki mimpi besar, surganya para pemikir, surganya para penulis prolivic, surganya aktifis organsasi, dan tentu saja surganya penikmat kopi dan rokok. 

Meja dan kursi tertata rapi di pujasera yang lumayan luas. Di masing-masing meja sudah disiapkan beberapa lobang stop kontak yang bisa digunakan untuk mengisi batrai gadget, handphone atau laptop. Di bagian depan, tempat duduk dibuat lesehan yang juga dilengkapi dengan beberapa stop kontak. Selain tempat ngopi, blandongan juga menyediakan lapangan futsal yang disewakan. Setting tempat yang dibuat semacam ini sangat memanjakan bagi mahasiswa, yang suka nongkrong bersama dengan teman-temannya. Hal itu ditambah dengan area parkir yang cukup luas dan alunan musik merdu dari sound sistem yang disediakan. 

Bersama dengan kawan-kawan KPMRT, saya menghabiskan separuh malam. Bercengkerama, saling tanya kabar, diskusi dan bercerita pengalaman di organisasi masing-masing. Kepulan asap rokok memenuhi warug Blandongan malam itu, sambil ditemani kopi hitam yang pekat sekali. Bagi kami, aroma kebebasan, kreatifitas dan kebersamaan sangat terasa disini. Area yang sangat mendukung untuk menghasilkan tulisan-tulisan genuine dan orisinal dari kita masing-masing. Keakraban itu bukan sesuatu yang mengherankan, karena di sana kita dipersatukan sebagai orang-orang perantau dari Tuban Jawa Timur, yang kebetulan sedang bersama-sama berada di Yogyakarta.  Tak terasa obrolan kami pun sampai pada pukul 24.00 WIB malam, terasa sudah rasa capek dari perjalanan pagi sampai siang hari dari Bojonegoro sampai Yogyakarta. Akhirnya, saya ditawari mas Dafid (teman Tuban asal Montong) untuk istirahat di kos miliknya. Kami meninggalkan kawan-kawan lain yang masih asyik bercengkerama di Blandongan, dengan naik motor mas David yang sangat menarik hati. Sesampainya di kosan, saya mandi, shalat dan tertidur sampai pagi datang.

Pertemuan Asosiasi Dosen PIAUD di UIN Suka
            Perlu saya beri pengantar mungkin, sebelum bercerita tentang ini. PIAUD adalah nama program studi tempat saya bekerja. Ia kepanjangan dari Pendidikan Islam Anak Usia Dini yang disingkat PIAUD. Pada prodi ini saya menjadi Sekretarisnya, sehingga seperti saya singgung di atas, harus mengikuti instruksi Kaprodi untuk ikut menghadiri acara ini. Bagi saya, sangat kurang sopan dan sangat sayang jika tidak menyempatkan diri mampir ke kos Mas Dafid, dan bertemu dengan kawan-kawan Tuban lainnya. 

            Acara pertemuan Dosen PIAUD ini dimulai pada pukul 09.00 WIB. Diawali dengan ramah tamah dengan Dekan Fakultas Tarbiyah, para dosen dari berbagai kampus di Indonesia, dan yang spesial adalah kedatangan Dosen dari USIM (University Sains Islam Malaysia). 

Rangkaian acara terdiri dari beberapa bagian. Pertama diawali dengan seminar dan inagurasi seni dari Prodi PIAUD UIN Sunan Kalijaga dan Pusat Pengkajian Islam USIM Malaysia. UIN Sunan Kalijaga menampilkan peragaan pembelajaran al-Quran metode Iqra dan ringkasan Iqra dari dua taman kanak-kanak di bawah naungan UIN Suka, sedangkan USIM Malaysia memaparkan metode pembelajaran al-Quran Braile dan metode al-Baghdadi. Acara kedua adalah presentasi paper dari masing-masing dosen perguruan tinggi yang telah dipersiapkan sebelumnya, dengan tema metode pembelajaran al-Quran. Sedangkan acara ketiga yang sekaligus menjadi kegiatan penutup adalah review Kurikulum KKNI Prodi PIAUD dengan sampel draft kurikulum PIAUD STAI Al Hikmah Tuban. Tepat pukul 16.30 WIB semua kegiatan selesai dan diakhiri dengan berfoto bersama. Sehari penuh, kegiatan dilakukan dan cukup menguras energi. Akan tetapi hal itu setimpal dengan banyaknya ilmu baru yang kami peroleh dan dokumen MoU antar perguruan tinggi. Berawal dari dokumen itu setiap prodi dapat menjalin kerjasama dan mengembangkan kegiatannya masing-masing. 

            Selesai semua rangkaian acara di UIN Suka, saya langsung menuju warkop Blandongan lagi, sembari melepas lelah. Disana saya disambut teman-teman Tuban yang asyik sekali diajak ngobrol dan diskusi sambil ngopi. Setelah mata terasa ngantuk, saya menuju kos Mas Dafid. Di sana saya istirahat sambil menikmati puluhan buku yang tertata rapi. Mas Dafid adalah yunior saya di MAN Tuban ketika sekolah, tetapi dia juga merupakan guru saya dalam hal gerakan dan intelektualitas. Saya senang sekali bisa berteman dengan mas Dafid, dan teman-teman mahasiswa Tuban lainnya di Yogyakarta. Akan tetapi, waktu yang membatasi, sehingga saya tidak dapat berlama-lama di sini. Keesokan harinya, saya kembali ke Tuban dengan naik bus. Dua malam di Jogja ini, cukup membuat kenangan tersendiri dan menimbulkan decak kekaguman dalam hati, ingin sekali hidup disini dengan segala iklim intelektualitasnya, tetapi apa daya, situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan.



Wallahu A’lam



Tuban Kota, 11 Nopember 2017

0

Akreditasi Institusi STAI Al Hikmah

Posted by Unknown on 20.08 in


Dua orang asesor yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Mereka adalah Prof. Subanar, Ph.D dari Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Dr. Ahmad Yani Anshori, M.Ag., dari Fakultas Syari’ah Univeritas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Keduanya adalah dua orang asesor yang ditunjuk BAN-PT (Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi) untuk memvisitasi beberapa perguruan tinggi di Jawa Timur pada bulan Agustus 2017 ini, termasuk salah satunya adalah institusi dimana saya bekerja, STAI Al Hikmah Tuban.


Tepat pada hari jum’at, 18 Agustus 2017 akreditasi itu dilaksanakan. Mulai dari pagi, pukul 08.00 sampai dengan pukul 18.00 WIB, dengan jeda Ishoma di siang hari. Persiapan telah dipersiapkan jauh-jauh hari, kurang lebih 5 bulan sebelumnya. Dengan bantuan seorang konselor akreditasi, panitia pesiapan akreditasi yang terdiri dari para dosen dan staff, bersama menyusun borang akreditasi dengan sebaik-baiknya, yang kemudian dilanjutkan melengkapi dokumen-dokumen bukti fisiknya. Dokumen bukti fisik adalah semua dokumen (buku, blangko, manual prosedur, dan sebagainya) yang menjadi pedoman aplikatif bukti dilaksanakannya pengelolaan dan aktifitas pergutuan tinggi yang meliputi 7 standar pergutuan tinggi. Sungguh pekerjaan yang melelahkan, karena panitia harus melengkapi semua bukti dokumen fisik itu dalam waktu yang relatif singkat, karena surat perintah visitasi dari BAN-PT mendadak sekali keluarnya.

Dari visitasi tersebut, banyak sekali kritik konstruktif yang kita dapatkan. Dua asesor yang tegas namun ramah, membuat proses akreditasi berjalan lancar dan penuh canda tawa. Kami bertekad selalu memperbaiki dan meningkatkan kualitas manajerial dan layanan pendidikan di STAI Al Hikmah ini. Dengan kerja tim yang kompak, semuanya pasti bisa teratasi. Amin. 

Bicara tentang borang akresitasi institusi, dokumen ini terdiri dari 3 bagian. Pertama adalah borang institusi sendiri yang terdiri dari 7 (tujuh) standar pendidikan tinggi. Tujuh standar itu antara lain; a) standar 1: visi, misi, tujuan dan strategi pencapaiannya, b) standar 2: tata pamong, kepemimpinan, sistem pengelolaan dan penjaminan mutu, c) standar 3: mahasiswa dan lulusan, d) standar 4: sumber daya manusia, e) standar 5: kurikulum, pembelajaran dan suasana akademik, f) standar 6: pembiayaan, sarpras dan sistem informasi, dan g) standar 7: penelitian, pengabdian kepada masyarakat dan kerjasama. 

Bagian kedua adalah dokumen evaluasi diri. Dokumen ini berisi catatan evaluasi terhadap tujuh standar yang telah dipaparkan pada dokumen pertama. Segala kendala dan capaian dalam tiap standar pendidikan tinggi itu dikoreksi sedemikian rupa sisi positif dan negatifnya. Bagian ini, hanya dapat disusun setelah selesai menelaah semua dokumen standar 1 sampai dengan 7. 

Sedangkan yang ketiga adalah dokumen lampiran, yang terdiri dari SK pendirian Institusi, SK pendirian Prodi dan sertifikat akreditasi perguruan tinggi atau prodi yang telah dilakukan sebelumnya. Ketiga dokumen tersebut diprint out dan dijilid, sambil diburning di CD dan kemudian dikirimkan di BAN-PT pusat di Jakarta. BAN PT memeriksa dan memberikan tenggat waktu pendaftaran akreditasi institusi yang dibuka untuk seluruh perguruan tinggi se Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Sebelum tenggat waktu itu ditutup, tiap kampus yang menginginkan dilakukan visitasi terhadap institusinya, haruslah mengirimkan dokumen borang akreditasinya sebelum tenggat waktu itu habis. Jika sudah, kemudian akan dibuatkan jadwal visitasi yang akan dilakukan oleh dua orang asesor untuk tiap satu perguruan tinggi. 

Saya terkesan dengan kedua asesor. Sikapnya yang ramah, apa adanya, tidak ragu-ragu dalam mengkritik dan selalu menyertai kritikannya dengan solusi-solusi konstruktif. Pertama adalah Prosefor Subanar. Ia adalah asli orang Trenggalek Jawa Timur, yang sangat paham terhadap budaya Jawa dan ramah dengan sesama. Ia Guru Besar Matematika di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Ia secaa fokus mengoreksi dokumen borang akreditasi institusi—yang di dalamnya lengkap berisi uraian 7 standar—dengan sangat teliti. Kami yang bertanggung jawab di tiap standar sampai berkeringat dingin menjawab pertanyaan dari beliau. Kekurangan kami yang paling fatal adalah kami tidak menggambarkan fakta real sebenarnya keadaan kampus. Beliau justru tidak senang ketika dokumen yang disusun beserta bukti fisiknya itu tidak sesuai atau terlalu melangit dari keadaan institusi yang sebenarnya. Ia mengatakan “sudahlah, tidak usah berputar-putar, kit sama-sama orang Jawa, tolong Anda jawab yang sebenarnya terjadi, saya lebih senang demikian, dan itu tidak masalah”. Sembari diselingi candaan ringan, membuat suasana cair dan mengurangi ketegangan. 

Asesor kedua yang juga membuat saya terkesan adalah, Doktor Ahmad Yani Anshori. Untuk asesor yang satu ini kami tidak terlalu cemas dan khawatir, karena ia berasal dari kultur yang sama dengan kampus STAI Al Hikmah, yaitu kultur pesantren. Ia asli orang Rembang dan sekarang bekerja di almamater UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, tepatnya di fakultas Syariah. Disamping itu, beberapa dosen kami juga sudah mengenal beliau, karena dulu pernah menjadi mahasiswanya selama kuliah S1. Badannya tinggi besar dengan berhias songkok hitam ala Soekarno, membuat banyak teman-teman dosen perempuan terkesan. Satu hal yang tak pernah lekang darinya adalah ia selalu menyempatkan menghisap rokok saat waktu santai. Kalau Prof. Subanar lebih fokus pada redaksional dokumen print out dan bukti fisik borang, maka Doktor Yani lebih fokus pada pencatatan hasil temuan visitasi pada aplikasi penilaian di komputer. Sesekali ia memberikan kritikan dan masukan kepada jajaran kampus, menambahi paparan dari Prof. Subanar. Proses itu berlangsung mulai pagi, dan tepat saat maghrib semua rangkaian acara sudah rampung.
Apapaun hasinya, kami bisa menerima dengan lapang dada. Karena segala biaya, daya dan upaya telah kami lakukan. Nilai akreditas A, B atau C akan sangat bermanfaat bagi institusi STAI Al Hikmah Tuban, karena kampus telah berstatus terakreditasi, yang pertama kali. Perjalanan Kampus yang berada di bawah naungan yayasan Pondok Pesantren Al Hikmah Singgahan Tuban ini mengalami grafik perkembangan yang signifikan, dalam besutan tangan dingin KH. M. Husnan Dimyathi. Berawal dari kelas jauh UNISLA yang kini sudah ditutup dan berdiri sendiri dengan nama STAI Al Hikmah Tuban, hari ini sudah dipercaya oleh masyarakat Tuban dan sekitarnya. Lima program studi, yaitu Manajemen Pendidikan Islam, Pendidikan Guru MI, Pendidikan Islam Anak Usia Dini, Ekonomi Syari’ah dan Ahwal AL-Syahsiyah kini sudah ramai dipenuhi mahasiswa. Program ke depan adalah perbaikan sistem pengelolaan sebagaimana rekomendasi dari kedua asesor, pembukaan prodi baru dan peralihan status menjadi institut. Semua ini perlu upaya ekstra dari semua pihak dan tentunya dukungan dari pemerintah.

Wallalu A’lam

Tuban Kota, 10 Nopember 2017

0

Dilema Muslim Moderat dalam Pilgub DKI

Posted by Unknown on 06.36 in
Pilgub DKI putaran kedua akan dihelat besok, tanggal 19 April 2017 ini, tinggal esok hari. Lantas bagaimana kaum muslim—khususnya muslim moderat—dalam menyikapi hal tersebut, mengingat ada dua pasangan calon yang sama-sama kuat dan dilematis. Calon petahana yang memiliki basis massa dan kebetulan seorang non muslim, melawan calon penantang yang beragama Islam. Dimana dalam konteks ini, isu agama menjadi barang dagangan yang boleh jadi sangat laris dalam meraih dukungan massa.

Pertama, Basuki Cahaya Purnama (Ahok). Sebagai petahana, ia tahu persis segudang permasalahan yang ada di DKI Jakarta. Dalam berbagai debat Cagub, ia tampil memukau dengan paparan jelas dan sangat teknis mengenai sumber permasalahan dan tawaran solusi yang sedang ataupun yang akan dilakukan. Akan tetapi yang menjadi dilematis, adalah posisi Ahok yang juga seorang Kristiani berkebangsaan Tionghoa. “Etnis Tionghoa” mungkin faktor yang tidak terlalu sensitif bagi banyak orang, karena pasca reformasi dan adanya kebijakan Presiden Abdurrahman Wahid, kaum Tionghoa mendapat tempat yang sejajar di mata hukum dengan warga pribumi. Warga pribumipun tak ada masalah untuk hidup berdampingan dengan masyarakat Tionghoa. Keduanya memiliki hak dan kewajiban yang sama sebagai warga negara. Satu hal yang menjadi permasalahan adalah bahwa ia adalah seorang Kristiani, yang bagi seorang muslim—dimana dari segi jumlah ia mayoritas—merupakan hal yang masih sangat tabu. Dari banyak literatur klasik yang mana itu masih diamini dan ditaqlidi oleh sebagian besar ulama’, menganggap bahwa “memilih pemimpin kafir itu hukumnya haram”. Sontak pencalonan Ahok sebagai Cagub (walau cawagubnya seorang muslim) membuat sebagian muslim di DKI Jakarta menjadi geram. Hal tersebut diperparah dengan blunder video pidato Ahok di Kepulauan Seribu tentang tafsir surat Al-Maidah ayat 51. Buah dari tindakannya tersebut berujung pada demo besar-besaran yang dihelat oleh kelompok umat Islam yang anti kepada pemimpin non muslim. Aksi yang reaksioner ini mayoritas diikuti oleh kelompok-kelompok muslim yang pro terhadap penegakan syari’at Islam sebagai hukum positif di Indonesia. Ahok yang non muslim, kemudian komentarnya terkait Surat Al-Maidah ayat 51 dan gaya keemimpinannya yang kasar, menjadi senjata ampuh bagi mereka untuk menggulingkannya dari kursi pencalonan Cagub DKI. Mewakili umat Islam Indonesia yang mayoritas berada pada tataran grass roots, maka akan sangat mudah untuk terpancing mengikuti demo anti Ahok tersebut, dengan misi mulia yaitu melengserkan calon pemimpin non muslim dan menjatuhkan pilihan kepada calon gubernur yang beragama Islam. Gelombang aksi penolakan yang dilakukan oleh beberapa gabungan ormas Islam tersebut, berujung pada aksi besar-besaran yang dilakukan beberapa kali. Akan tetapi, usaha mereka sepertinya sia-sia, karena Ahok masih tetap bebas melenggang maju terus ke kursi Cagub DKI. 

Calon kedua adalah Anis Baswedan. Ia menjadi populer dengan “Gerakan Indonesia Mengajar”-nya yang sukses menarik perhatian anak-anak muda berprestasi dan memiliki semangat tinggi untuk menjadi role model guru terbaik di daerah-daerah tertinggal. Setelah itu ia kembali tenar setelah mengikuti konvensi Partai Demokrat yang akan menentukan calon presiden 2014-2019 dari parpol ini. Ia pun mendapat basis dukungan dari anak-anak muda yang mengkonsolidasikan diri ke dalam gerakan “turun tangan”. Menurut Anis, kita tidak boleh urun angan saja terhadap Republik ini, tetapi juga harus turun tangan langsung dan bersama-sama memperbaikinya. Masih menurut Anis, salah satu gerakan turun tangan ini adalah terjun di dalam tataran praktis menjadi calon pemimpin. Namun, setelah gagal di konvensi Partai Demokrat, ia mengalihkan basis pendukungnya—yang sebagian besar anak-anak muda itu—untuk geser mendukung pasangan Djokowi-JK dan menjadi tim pemenangannya. Satu hal yang menarik, kali ini ia benar-benar menjalankan dukungan politik nya ini untuk mendapatkan posisi dalam Kabinet Jokowi. Hal itu terbayar dengan dijadikannya ia sebagai bagian tim transisi yang menyusun komposisi kabinet “Kerja” kala itu. Ia pun mendapatkan posisi menggiurkan, yaitu menteri Pendidikan Dasar dan Menengah. Akan tetapi hal itu tidak berlangsung lama, setelah ia terkena ressufle Kabinet Kerja yang memaksanya hengkang dari jabatan menteri. Karena tidak memiliki gerbong partai politik, ia pun mengakhiri kebersamaannya dengan Jokowi dan kembali menjadi akademisi yang setia mendampingi keluarga di rumah. Akan tetapi, itu tidak berlangsung lama setelah masa pencalonan Pilgub DKI tiba, ia dipinang oleh Parpol yang dulu sangat lantang ia kritik saat mendukung Jokowi, yaitu Partai Gerindra. Tanpa pikir panjang, iapun menerima pinangan dari Prabowo Subianto untuk menjadi calon gubernur bersama Sandiaga Uno. Pasangan Ahok-Djarot dan Anies-Sandi berhasil lolos pada putaran kedua setelah berhasil mengalahkan pasangan Agus-Silvi yang diusung oleh Partai Demokrat. Dukungan masyarakat DKI Jakarta—terutama umat Islam—terus mengalir kepada paslon Anies-Sandi ini. Hal yang menarik adalah banyaknya kelompok Islam pro-syari’ah atau kelompok Islamis memberikan dukungannya kepada Anies-Sandi. Sebut saja FPI (Front Pembela Islam), FUI (Forum Umat Islam) dan bahkan yang anti Demokrasi—HTI (Hizbut Tahrir Indonesia)—yang ketiganya memantapkan dukungan kepada Anies-Sandi untuk mengganjal menangnya Ahok (yang non muslim) dalam perhelatan ini. Sungguh sangat dilematis, khususnya bagi muslim kebanyakan yang moderat, karena dukungan kelompok-kelompok Islam garis kanan ini mengindikasikan adanya kontrak politik berbau formalisasi syari’at Islam. Tanpa perlu bukti fisik pun—FPI, FUI dan HTI—ketiganya adalah agen-agen formalisasi syari’at Islam dalam Undang-Undang dalam segala aksi dan forum-forum kegiatannya. 

Sebagaimana kita ketahui bahwa, kaum muslim moderat adalah mereka yang ingin menjalankan ajaran agama Islam dengan damai, santun, ikhlas tanpa paksaan. Mereka adalah penjaga gawang NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) dengan kesadaran penuh bahwa Negara Indonesia ini terbentuk oleh adanya kesepakatan bersama. Kesepakatan untuk menjunjung tinggi Pancasila, UUD 1945, prinsip kebhinekaan, dan menjaga keutuhan NKRI. Muslim moderat sadar, bahwa tidak perlu payung formal syari’at Islam yang melembaga, untuk menjalankan ajaran agama Islam. Karena Umat Islam sudah dengan leluasa dapat menjalankan ajaran agamanya tanpa intervensi siapapun. Di sisi lain, Indonesia adalah negara yang multi etnis, multi budaya, multi bahasa dan multi agama. Jika doktrin salah satu agama dijadikan sebagai peraturan hukum positif yang di-Undangkan, maka yang akan terjadi adalah konflik agama dan bahkan disintegrasi bangsa. Muslim moderat adalah mereka yang berhasil mensintesiskan antara kecintaan kepada agama Islam dan kecintaan terhadap tanah air Indonesia. 

Dua paslon dalam putaran terakhir di Pilgub DKI tahun 2017 ini menyisakan dilema berat bagi kaum muslim yang berhaluan moderat. Apabila ada dua calon pemimpin yang sama-sama baik dalam track recordnya,  maka jalan lain kemudian kita lihat apa agamanya. Jika menggunakan agama calon pemimpin sebagai indikator dalam memilih, maka sudah barang tentu pilihan akan jatuh ke Anis-Sandi. Akan tetapi melihat gelombang dukungan dari kelompok muslim kanan yang pro formalisasi syari’at Islam, maka ini juga bertentangan dengan prinsip moderasi yang sudah dipegang. 

Semoga umat Islam Provinsi DKI Jakarta bisa arif dalam memilih. Jika Ahok yang terpilih, semoga ia menjadi pemimpin yang santun, menghargai pluralitas agama dan memimpin dengan demokratis. Namun, jika Anis yang menang, semoga ia tidak terjebak dalam kontrak politik formalisasi syari’at Islam dalam bentuk Perda Syari’ah di DKI Jakarta. Hal yang lebih terpenting lagi adalah semoga tidak ada konflik vertikal maupun horizontal yang terjadi pada masyarakat DKI Jakarta. Pilihan gubernur ini adalah pesta demokrasi yang menjadi perayaan warga negara Indonesia dan harus terselengara sedara jujur, aman dan damai dengan menghormati pilihan masing-masing. 



Wallau A’lam

0

Nilai-Nilai Aswaja dan Urgensinya

Posted by Unknown on 17.10 in
Pengertian Aswaja
Ahl al-sunnah wa al-jama’ah atau yang lebih dikenal dalam kalangan NU (Nahdhatul Ulama’) dengan singkatan “aswaja” atau “sunni” adalah salah satu aliran teologi dalam Islam yang terlahir dari sebagai respon kepada madzhab teologi mu’tazilah yang melahirkan pertentangan sengit antara aliran qadariyah dan jabariyah. Kalangan nahdliyyin berpijak pada hadits Nab Muhammad Saw. yang diriwayatkan oleh Tabrani dan Tirmidzi. Pertama, Rasulullah bersabda: Demi Dzat, yang jiwaku ada dalam genggamanNya, umatku adakan pecah menjadi 73 golongan; satu masuk surge dan 72 masuk neraka. Seorang sahabat bertanya: Siapa itu Ya Rasul? Jawab Nabi: I addalah golongan Ahlussunnah wal Jama’ah (HR. Thabrani). Kedua, Rasulullah bersabda: Umatku akan pecah menjadi 73 golongan, Satu selamat (masuk surga) dan lainnya rusak (masuk neraka). Sahabat bertanya: Siapakah yang selamat itu Ya Rasul? Jawab Nabi: Golongan Ahlussah wal Jama’ah. Seorang sahabat lain bertanya: Siapakah golongan Ahlussunnah wal Jama’ah itu? Jawab Nabi: Yang sekarang bersamaku dan sahabat-sahabatku.[1]
Sebelum pembahasan lebih jauh, maka hal pertama yang harus kita pahami adalah pengertian dari terma “ahl al-sunnah wa al-jama’ah” itu sendiri. Ahlussunnah wal jama’ah sendiri terdiri dari tiga kata, yaitu “ahlun”, “al-sunnah” dan “al-jama’ah”. Ahl berarti keluarga, golongan atau pengikut. Sedangkan al-sunnah berarti segala sesuatu yang telah diajarkan oleh Rasulullah Saw. Maksudnya adalah semua yang datang dari Nabi Muhammad Saw. yang berupa perbuatan (fi’l), ucapan (qaul) dan pengakuan (taqrir) Nabi Muhammad Saw. Kemudian al-jama’ah adalah apa yang telah disepakati oleh para sahabat Rasulullah Saw. pada masa al-khulafa’ al-rasyidun (Khalifah Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib).[2] Jadi, ahl al-sunnah wa al-jama’ah merupakan ajaran yang mengikuti semua yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. dan para sahabatnya. Dengan demikian, maka tingkat kebenaran dan orisinalitas ajaran agama Islam akan terjaga kemurniannya melalui sanad yang terus bersambung antara masa sahabat sampai dengan Rasulullah Saw.
Pendiri madzhab teologi ahl al-sunnah wa al-jama’ah adalah Abu Hasan ‘Ali bin Isma’il al-‘Asy’ari (la hir di Bashrah 260 H/874 M dan wafat 324H/936 M) yang bermadzhab syafi’i dan Abu Manshur Muhammad bin Muhammad bin Mahmud al –Maturidi (lahir di daerah Maturid abad ke 9 M dan wafat 944 M) dari madzhab hanafi.[3] Imam Asy’ari awalnya adalah pengikut setia Mu’tazilah yang juga murid al-Juba’i (tokoh penting Mu’tazilah) selama 40 Tahun. Hal yang menjadi penyebabnya adalah ketidakpuasannya atas jawaban pertanyaan dari gurunya yang meliputi masalah kedudukan orang mukmin, kafir dan anak kecil di akhirat nanti. Setelah itu ia merenung kurang lebih selama 15 hari dan hasilnya, ia memproklamirkan telah keluar dari madzhab Mu’tazilah. Pemikiran Asy’ariyah muncul sebagai kritik atas aliran Mu’tazilah.[4] Sedangkan al-Maturidi memiliki ajaran yang selaras dengan al-Asy’ari, perbedaannya hanya dalam fiqh-nya saja dan tantangan Imam al-Maturidi saat itu bukan hanya Mu’tazilah, akan tetapi juga aliran Mujassimah, Qaramithah, dan Jahmiyyah. Selain itu juga kelompok agama lain seperti Yahudi, Majusi dan Nasrani.[5] Kedua tokoh ini menjadi tokoh sentral dalam madzhab ahl al-sunnah wa al-jama’ah sebagai solusi jalan tengah (tawassuth) dalam perdebatan antara kelompok Jabariyah dan Qodariyah.

Nilai-Nilai Aswaja dalam Kehidupan
Dari sikap yang ditunjukkan oleh al-‘Asy’ari dan al-Maturidi ini kemudian dirumuskan beberapa nilai-nilai ahl al-sunnah wa al-jama’ah yang berlaku di kalangan NU (Nahdlatul Ulama’), yaitu: tawassuth, tawazun, tasamuh, dan i’tidal yang dijadikan pedoman dalam bertindak di segala aspek kehidupan. Adapun perinciannya sebagai berikut:[6]
Pertama, nilai tawassuth, yaitu jalan tengah, tidak ekstrem kanan atau kiri. Dalam paham Ahlussunnah wal Jama'ah, baik di bidang hukum (syari’ah) bidang akidah, maupun bidang akhlak, selalu dikedepankan prinsip tengah-tengah. Juga di bidang kemasyarakatan selalu menempatkan diri pada prinsip hidup menjunjung tinggi keharusan berlaku adil, lurus di tengah-tengah kehidupan bersama, sehingga ia menjadi panutan dan menghindari segala bentuk pendekatan ekstrem.dengan sikap dan pendirian. Sebagaimana firman Allah Swt:
“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia”. (Al-Baqarah: 143). 
Tawassuth merupakan landasan dan bingkai yang mengatur bagaimana seharusnya kita mengarahkan pemikiran kita agar tidak terjebak pada pemikiran agama an sich. Dengan cara menggali & mengelaborasi dari berbagai metodologi dari berbagai disiplin ilmu baik dari Islam maupun Barat. Serta mendialogkan agama, filsafat dan sains agar terjadi keseimbangan, tetap berpegang teguh pada nilai-nilai agama dengan tidak menutup diri dan bersikap konservatif terhadap modernisasi.
Kedua, nilai tawazun, yakni menjaga keseimbangan dan keselarasan, sehingga terpelihara secara seimbang antara kepentingan dunia dan akhirat, kepentingan pribadi dan masyarakat, dan kepentingan  masa kini dan masa datang. Keseimbangan di sini adalah bentuk hubungan yang tidak berat sebelah (menguntungkan pihak tertentu dan merugikan pihak yang lain). Tetapi, masing-masing pihak mampu menempatkan dirinya sesuai dengan fungsinya tanpa mengganggu fungsi dari pihak yang lain. Hasil yang diharapkan adalah terciptanya kedinamisan dalam hidup. Firman Allah Swt:
 “Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan…….” (Al-Hadid: 25).
Keseimbangan menjadikan manusia bersikap luwes tidak terburu-buru menyimpulkan sesuatu, akan tetapi melalui kajian yang matang dan seimbang, dengan demikian yang diharapkan adalah tindakan yang dilakukan adalah tindakan yang paling tepat sesuai dengan kebutuhan dan kepentingannya.
Ketiga, nilai tasamuh, yaitu bersikap toleran terhadap perbedaan pandangan, terutama dalam hal-hal yang bersifat furu'iyah, sehingga tidak terjadi perasaan saling terganggu, saling memusuhi, dan sebaliknya akan tercipta persaudaraan yang islami (ukhuwwah islamiyyah) dengan mentoleransi perbedaan yang ada bahkan pada keyakinan sekalipun. Tidak dibenarkan kita memaksakan keyakinan apalagi hanya sekedar pendapat kita pada orang lain, yang dianjurkan hanya sebatas penyampaian saja yang keputusan akhirnya diserahkan pada otoritas individu dan hidayah dari Tuhan. Dalam diskursus sosial-budaya, Ahlussunnah wal Jama'ah banyak melakukan toleransi terhadap tradisi-tradisi yang telah berkembang di masyarakat, tanpa melibatkan diri dalam substansinya, bahkan tetap berusaha untuk mengarahkannya. Formalisme dalam aspek-aspek kebudayaan dalam pandangan Ahlussunnah wal Jama'ah tidaklah memiliki signifikansi yang kuat. Karena itu, tidak mengherankan jika dalam tradisi kaum Sunni terkesan hadirnya wajah kultur Syi'ah atau bahkan Hinduisme. Hal ini pula yang membuatnya menarik banyak kaum muslimin di berbagai wilayah dunia. Pluralistiknya pikiran dan sikap hidup masyarakat adalah keniscayaan dan ini akan mengantarkannya kepada visi kehidupan dunia yang rahmat di bawah prinsip ketuhanan.
Keempat, nilai i’tidal (adil, tegak lurus atau menempatkan sesuatu pada tempatnya). Dalam al-Qur’an disebutkan:
 “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Maidah: 8).
       Menempatkan sesuatu pada tempatnya ini asalah salah satu tujuan dari syari’at. Dalam bidang hukum, suatu tindakan yang salah harus dikatakan salah, sedangkan hal yang benar harus dikatakan benar, kemudian diberikan konsekuensi hukuman yang tepat sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan. Dalam kehidupan sosial, rakyat sebagai komponen yang paling penting dalam negara demokrasi harus mendapatkan keadilan dari pemerintah sesuai dengan hak-haknya dengan terimplementasikannya Undang-Undang sebagaimana mestinya tanpa diskriminasi. Perjuangan menuju keadilan sosial harus terus dikawal sesuai dengan pesan luhur pancasila.
Jika empat prinsip ini diperhatikan secara seksama, maka dapat dilihat bahwa ciri dan inti ajaran Ahlussunnah wal Jama'ah adalah pembawa rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil ‘alamin). Sikap moderasi yang tercermin dalam empat nilai di atas harus dijadikan pedoman dalam berpikir, bersikap dan bertindak dalam segala hal yang menyangkut agama dan segala aspek sosial yang lainnya.

Urgensi Membumikan Nilai Aswaja
Menurut hemat penulis, penting (urgensi)-nya membumikan nilai-nilai aswaja ini dalam dunia pergerakan dan kaderisasi ada dua hal, pertama adalah ideologisasi dan internaslisasi nilai-nilai aswaja ini dalam diri pribadi setiap kader NU/PMII dan yang kedua adalah menjadikan nilai-nilai aswaja yang sudah tertanam ini menjadi dasar dan basis kekuatan dalam melahirkan gerakan-gerakan sosial dalam menjawab tantangan permasalahan kontemporer. Sebagaimana kaidah ushuliyah yang sangat populer di kalangan pesantren “Al-Muhafadhatu ala al-Qadim al-Shalih wa al-Akhdzu bi al-Jadid al-Ashlah” (menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik).
     Tidak dapat dipungkiri bahwa NU/PMII dihadapkan pada tantangan banyaknya gerakan-gerakan Islam militan transnasional yang selalu melakukan penyebaran ideologinya dengan tidak segan-segan melakukan infiltraisi pada kelompok-kelompok Islam moderat lainnya. Selain itu juga kita dihadapkan pada tantangan global persaingan ekonomi lintas batas. Tidak dapat dipungkiri dengan banyaknya masuk pengusaha-pengusaha asing dari luar negeri nantinya akan membawa pula nilai-nilai baru yang dapat mengancam kearifan lokal Indonesia. Ini semua perlu dirumuskan dalam langkah-langkah gerakan strategis dengan selalu berbasis pada intelektualitas, dan mahasiswa maupun akademisi mengambil peran penting dalam hal ini.  
Wallahu A’lam.



[1] Dua hadits ini dikutip dari kitab aslinya oleh Munawwir Abdul Fattah, Tradisi Orang-Orang NU, Cet. IX, (Yogyakarta: LKiS, 2012), hlm. 8-10.
[2] Lihat dalam Muhyiddin Abdusshomad, Fiqh Tradisionalis: Jawaban atas Pelbagai Persoalan Keagamaan Sehari-hari, Cet. VI, (Surabaya: Khalista, 2004), hlm. 1-3.
[3] Lihat dalam Muhyiddin Abdusshomad, Fiqh Tradisionalis…….hlm. 16 dan 21.
[4] Lihat dalam Harun Nasution, Teologi Islam; Aliran-Aliran, Sejarah, Analisa Perbandingan, Eds. 2, (Jakarta: UI Press, 2002), hlm. 66-67.
[5] Tim Penyusun, Aswaja An-Nahdliyah; Ajaran Ahlussunnah wa al-Jama’ah yang berlaku di lingkungan Nahdlatul Ulama’, Cet. 3, (Surabaya: Khalista, 2009), hlm. 15.
[6] Disarikan dan dielaborasi dari Muhyiddin Abdusshomad, Fiqh Tradisionalis: Jawaban atas Pelbagai Persoalan Keagamaan Sehari-hari, Cet. VI, (Surabaya: Khalista, 2004), dan Tim Penyusun, Aswaja An-Nahdliyah; Ajaran Ahlussunnah wa al-Jama’ah yang berlaku di lingkungan Nahdlatul Ulama’, Cet. 3, (Surabaya: Khalista, 2009).

Copyright © 2009 TANPA BATAS All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.