Tampilkan postingan dengan label Tubanku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tubanku. Tampilkan semua postingan
0

Melihat dengan Kearifan; Tanggapan atas Tulisan Sahabat KPMRT Jogja

Posted by Unknown on 15.01 in
Campus Festival 2017, demikianlah tajuk sebuah kegiatan yang dikemas dalam pameran perguruan tinggi yang diikuti oleh tigapuluhan kampus. Peserta dari kegiatan ini adalah mahasiswa asal Tuban yang tersebar di berbagai perguruan tinggi di Indonesia mewakili kampusnya masing-masing. Tujuan mereka sederhana, dimana agar adik-adik yang sedang menimba ilmu di bangku SMA-MA-SMK tidak kebingungan, tatkala mempersiapkan diri melanjutkan studinya ke perguruan tinggi.

Kegiatan ini telah rampung dilaksanakan, pada tanggal 21 s/d 23 Januari 2017 yang dirangkai dengan kegiatan bhakti sosial oleh segenap panitianya. Kegiatan tahun ini terbilang sukses, karena kampus yang mengikuti pameran meningkat jumlahnya—hingga 37 perguruan tinggi—yang meliputi perguruan tinggi negeri dan swasta yang tersebar di Surabaya, Madura, Malang, Bali, Semarang, Solo, Yogyakarta, Jakarta dan sebagainya, yang tak kalah pentingnya adalah seluruh perguruan tinggi di Kota/Kabupaten Tuban sendiri ikut meramaikan. Campus Festival kali ini adalah estafet dari kegiatan serupa yang diadakan tahun lalu oleh komunitas mahasiswa Tuban yang berada di Malang dan dari tahun-tahun sebelumnya lagi, dimana kali ini dilaksanakan oleh para mahasiswa Tuban yang belajar di Surabaya dan Madura yang membentuk kepanitiaan dengan nama “Suramadu”.  

Tulisan ini bukan saya tujukan untuk lebih jauh mengupas proses berjalannya kegiatan, namun sekedar tanggapan terhadap sebuah tulisan sahabat KPMRT (Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Tuban) di Yogyakarta yang beberapa hari lalu dirilis di websitenya. Apa yang ditulis oleh sahabat tersebut kurang lebih berkisar pada dua isu besar. Pertama, adalah kesan yang terlihat dan terasa oleh ketika menjadi peserta Campus Festival. Dia merasa bahwa sebagian besar mahasiswa yang mengikuti pameran ini sedang terjebak dalam euforia egoisitas kampus. Mereka terlalu membangga-banggakan kampus tempat mereka belajar dan bersifat eksklusif terhadap kampus-kampus yang lainnya, dengan menonjolkan ke-”aku”-annya dan seakan tak pernah terlintas di benaknya untuk mengekspresikan ke-“kita”-annya sebagai warga Tuban. Ini terlihat dalam seragam yang dikenakan masing-masing kampus, hampir semuanya mengenakan pakaian seragam sebagai identitas Orda (Organisasi Daerah) di tiap kampusnya dan berbangga diri dengan hal itu. Ini sangat berbeda dengan kostum yang dikenakan oleh para sahabat KPMRT yang bergabung satu stand saja (padahal di dalamnya terdiri dari beberapa kampus di Yogya) dengan pakaian bebas tanpa seragam, sesuka hati mereka. Betapa teman-teman yang lain tersebut telah terkooptasi dengan indahnya bungkus, tanpa sama sekali mementingkan isi atau esensi yang ada di dalamnya.

Kedua, adalah ikon “Tuban Bumi Wali” yang ditanggapi nyinyir oleh sahabat kita ini. Dia menyatakan entah ada kaitannya atau tidak antara tempat kegiatan yang diadakan di Budaya Loka yang itu berdekatan dengan ikon “Tuban Bumi Wali” itu di sebelah timurnya, sehingga mahasiswa yang seharusnya lebih mementingkan isi malah tertipu oleh silaunya seragam dan kebanggaan kampusnya, tanpa mengetahui lebih mendalam kondisi real Kabupaten Tuban dengan seabrek permasalahannya. Begitu halnya slogan “Tuban Bumi Wali” yang sangat besar terpampang di bundaran timur gedung Budaya loka itu dan satu lagi yang baru-baru ini dipasang di depan kantor DPRD Tuban. Dengan bahasa lain saya perjelas, menurutnya, slogan ini adalah slogan bungkus yang mengaburkan esensi kondisi real seperti apa Tuban itu. Slogan ini menjadikan warga Tuban besar kepala, karena mensiratkan seluruh warganya itu dekat dengan Tuhan atau dekat dengan surga. Atau malah ikon ini sengaja dibuat untuk pajangan agar indah sebagai background foto adik-adik SMA yang sedang lewat. Ia ingin memahamkan bahwa masyarakat telah sebegitu jauhnya ternina bobokkan oleh bungkus-bungkus yang memang sengaja dibuat oleh Si pemegang kekuasaan agar lupa dengan isi, lupa dengan kondisi real yang mereka alami akibat kebijakan-kebijakan penguasa.

Dua entri point ini tak ingin saya counter atau saya kritisi, karena sedikit banyak saya sangat setuju dengan isinya. Bahwa kita tetap harus mementingkan isi atau esensi dari pada bungkus. Akan tetapi hal yang perlu saya jabarkan adalah perlunya kita memandang fenomena Orda Tuban ini dengan kearifan. Kearifan yang saya maksudkan adalah kita tak bisa menyamaratakan konteks semua kampus dan daerah dimana kampus itu berada. Konteks kampus adalah tipikal masing-masing kampus, dimana ada macam-macam kampus, seperti kampus Negeri dan Swasta, kampus di bawah Diknas dan Depag, kampus elit dan tidak elit, kampus swasta mahal dan kampus swasta kecil yang sepi peminat. Sedangkan konteks daerah adalah kondisi geografis daerah dan iklim akademik di tiap daerah tidaklah sama, dimana sedikit banyak antara kondisi geografis dan iklim akademik tersebut dapat terkorelasi. Semisal Surabaya yang panas dan persaingan kerja yang teramat ketat, membuat pola pikir mahasiswa terkonstruk menjadi pragmatis, bagaimana mereka bisa dapat nilai bagus dan cepat lulus kuliah kemudian bekerja. Malang misalnya, kondisi geografis yang dingin dengan menjamurnya tempat wisata, baik yang alami atau buatan, menjadikan mahasiswa lebih suka berpetualang mendaki gunung atau menjelajah tempat wisata di waktu luangnya. Berbeda halnya (mungkin) dengan Yogyakarta yang sudah masyhur di mana-mana sebagai kawah candradimukanya kaum intelektual, gudangnya para seniman dan tempat bersemainya multikulturalisme. Kegiatan pergerakan mahasiswa tumbuh subur, diskusi-diskusi berjalan, idealisme benar-benar dipupuk dan dikembangkan, hal ini menciptakan iklim akademik yang sangat baik dalam rangka pengembangan kapasitas intelektual.

Konteks inilah yang harus kita perhatikan. Perbedaan-perbedaan tipe kampus dan daerah dimana kampus berada, turut memberi andil dalam mengkonstruk paradigma berpikir, gaya hidup dan bahkan sampai cara bicara mereka. Artinya, konteks ini jangan kita abaikan, tatkala ingin mempersatukan semua mahasiswa Tuban. Hal semacam ini sudah sejak lama dibicarakan sahabat-sahabat mahasiswa Tuban angkatan ‘07-‘08 semenjak enam tahun yang lalu di warung-warung kopi. Penyatuan dalam wadah yang lebih luas adalah ibarat payung yang bisa menjadi tempat berteduh bagi semua orda Tuban yang bertebaran. Payung ini dapat menjadi wadah bergerak secara bersama-sama dan menanggalkan egoisitas-eksklusifitas masing-masing kampus. Bergerak bersama-sama dalam artian mengadakan kegiatan dalam skala besar dan dengan satu nama, “mahasiswa Tuban”, tak peduli dari Desa mana dan dari kampus apa ia berasal. Tetapi kita jangan berharap intensitas kegiatan dan intensitas berkumpul mereka, buatlah agenda tahunan tiga atau ampat buah saja. Karena jarak yang sangat jauh, lintas kabupaten, lintas propinsi dan bahkan lintas pulau.

Kesepakatan lain pula yang sudah selesai dibahas kala itu adalah, adanya payung besar ini sebagai stimulis terbentuknya orda-orda Tuban di kampus-kampus yang belum terbentuk. Biarlah orda-orda Tuban di tiap kampus terbentuk, dengan apapun namanya, dengan se-intensif apapun kegiatannya. Karena di internal kampuslah mereka dapat intensif bertemu dan berkegiatan, sedangkan di luar kampusnya mereka akan memiliki jaringan orda yang lebih luas dengan payung mahasiswa Tuban itu tadi. Adanya penyatuan tadi, bukan dalam maksud peleburan semua orda yang sudah ada dengan namanya masing-masing untuk berubah menjadi satu nama, akan tetapi justru sebagai penyemai terbentuknya masing-masing orda di internal kampus yang belum ada. Sedangkan dalam konteks antar kampus, kita memiliki payung yang lebih luas, se-Indonesia (kalau bisa).

Terakhir satu hal lagi yang terpenting, adalah keterlibatan semua kampus di dalam Kota dan Kabupaten Tuban sendiri. Saya sebut Kabupaten karena di wilayah Tuban selatan juga mulai berdiri kampus-kampus kecil yang juga harus diperhitungkan. Orda-orda Tuban di luar Tuban boleh berbangga dengan kebesaran kampusnya, tetapi mereka harus kulo nuwun dan sendhika dhawuh dengan mahasiswa di dalam wilayah Tuban sendiri—yang terepresentasikan oleh Pengurus BEM—di tiap kampus. Merekalah yang paling mengerti dengan kondisi riil Tuban, dari implementasi kebijakan Pemkab Tuban sampai keadaan sebenar-benarnya masyarakat Tuban sampai di pelosok-pelosok. Oleh sebab itu, dalam proses ini, mereka wajib dilibatkan dan diajak untuk bicara.

Apabila kita bisa arif dalam melihat, maka kita akan bijak dalam bersikap, tak terkecuali dalam merajut simpul-simpul mahasiswa Tuban yang masih terserak. Jangan khawatir, Anda tidak sendirian, kaum-kaum yang sudah purna kuliah dengan beragam profesinya selalu mengawasi, melihat dari jauh dan memberikan back up penuh, karena sedari awal niat ini berangkat dari ketulusan hati semata-mata untuk Tuban tercinta.



Wallahu A’lam. 

0

Optimalisasi Peran Ormada (Organisasi Mahasiswa Daerah) Tuban

Posted by Unknown on 10.51 in


Ormada Tuban; Sebuah Cita-Cita Luhur
            Mahasiswa sebagai salah satu simbol golongan insan cerdik cendekia menjadi komponen penting dalam struktur sosial di masyarakat. Keberadaannya diharapkan menjadi gerbong pendobrak menuju kesejahteraan masyarakat yang lebih baik melalui pendidikan dan keterampilan dalam berbagai macam bidang pengetahuan yang dibuka di perguruan tinggi. Selain itu, peran yang tidak kalah penting dari mahasiswa adalah gelar agent of change yang disematkan kepadanya. Hal ini menemukan momentumnya ketika suksesnya gerakan mahasiswa Indonesia 1998 yang mampu menumbangkan rezim otoritarian yang memegang status quo saat itu. Inilah peran mahasiswa yang oleh Antonio Gramsci disebut sebagai “intelektual organik”, yaitu seseorang yang dapat memberikan kesadaran homogenitas bagi kelompoknya dan kelompok lain. Seorang intelektual organik harus merupakan seorang pioner, organisator, dan pejuang militan. Dimana semua diorientasikan lebih mementingkan kepentingan sosial di atas kepentingan pribadi. Posisi ini menempatkan mahasiswa menjadi komponen masyarakat yang memiliki tanggung jawab besar dalam melakukan pembacaaan terhadap realitas sosial dan melakukan perbaikan-perbaikan menuju perubahan tatanan sosial yang lebih baik.
            Kepedulian mahasiswa terhadap nasib bangsanya dengan banyak melakukan aksi-aksi sosial pada level nasional maupun regional juga harus dilengkapi dengan kepeduliannya terhadap nasib daerahnya sendiri di mana ia berasal dan tinggal. Sangat naïf apabila seseorang banyak berkontribusi secara nasional, akan tetapi tidak memperhatikan nasib masyarakat di daerahnya sendiri. Hal inilah yang mengetuk hati kawan-kawan mahasiswa yang berasal atau berdomisili di Kabupaten Tuban. Mereka yang berada di luar kota Tuban untuk menimba ilmu di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) atau Perguruan Tinggi Swasta (PTS) mengikat diri dengan latar belakang persamaan daerah kelahiran atau persamaan letak geografis dalam sebuah ikatan Organisasi Mahasiswa Daerah (Ormada) Tuban. Melalui Ormada ini para generasi muda Tuban mengikatkan diri dalam persaudaranan yang erat sebagai sesama perantau di luar kota. Dengan latar belakang persamaan itu, mereka melakukan komunikasi intensif dengan mencari informasi tentang mahasiswa-mahasiswa yang berasal dari Tuban, sampai pada akhirnya membentuk perkumpulan dan diresmikan dalam wadah organisasi. Organisasi tersebut ada yang bersifat sebagai ajang perkumpulan rutin pengisi waktu luang saja dan pada level yang lebih rumit, organisasi tersebut melakukan pengkaderan sistematis dengan program-program yang menyentuh langsung pada masyarakat Tuban, sesuai dengan keterampilan yang dimiliki dan latar belakang kampus masing-masing.
            Di beberapa daerah, telah dibentuk beberapa Ormada Tuban yang telah aktif cukup lama. Ormada-Ormada Tuban itu ada yang eksis di satu kampus saja dan ada pula yang menjalin komunikasi lebih luas dalam Ormada lintas kampus. Untuk Ormada Tuban di internal kampus dapat kita lihat seperti di UIN Sunan Ampel Surabaya mendirikan IMARO (Ikatan Mahasiswa Ronggolawe), di Universitas Negeri Surabaya (UNESA) mendirikan FORMAT (Forum Mahasiswa Tuban), di Universitas Airlangga mendirikan  KSATRIA (Keluarga Mahasiswa Tuban Universitas Airlangga), di Instutut Sepuluh November (ITS) mendirikan RUMAH ROTAN (Forum Mahasiswa Ronggolawe Tuban). Kemudian di daerah malang beberapa perguruan tinggi juga membuat komunitas yang sama. Sebut saja di UIN Maliki Malang mendirikan PERMATA (Perhimpunan Mahasiswa Tuban), di Universitas Negeri Malang (UM) mendirikan HIMARATU (Himpunan Mahasiswa Ronggolawe Tuban) di Universitas Brawijawa (UB) mendirikan HIMALAYA (Himpunan Mahasiswa Ronggolawe Brawijaya) dan bahkan masih banyak yang lainnya yang berlum terdeteksi. Kemudian dalam bentuk yang berikutnya, Ormada Tuban yang ada di beberapa kampus membentuk himpunan tersendiri, seperti di Surabaya terdapat FKMRT (Forum Komunikasi Mahasiswa Ronggolawe Tuban) yang mengklaim sebagai perhimpunan mahasiswa asal Tuban se-Surabaya, di daerah Yogyakarta juga terdapat KPMRT (Keluarga Pelajar Mahasiswa Ronggolawe Tuban) sebagai wadah persaudaraan mahasiswa asal Tuban yang kuliah di Yogyakarta, dan sekitar daerah ibu kota Jakarta ada IMRT (Ikatan Mahasiswa Ronggolawe Tuban). Ormada Tuban yang dibentuk di beberapa kampus besar di luar kota ini merupakan wujud cita-cita luhur dari generasi muda Tuban untuk berkontribusi terhadap daerah kelahirannya dalam bentuk berbagai macam kegiatan positif yang dilakukan. Melalui organiasai paguyuban seperti ini, peran nyata individu akan lebih termobilisasi dengan baik sehinga menghasilkan peran-peran yang lebih banyak serta dapat dirasakan oleh masyarakat.
Nilai-Nilai Positif Terbentuknya Ormada Tuban
            Sebagai salah satu  bentuk pengabdian terhadap tempat kelahiran, Ormada Tuban memiliki nilai-nilai positif dan bermanfaat. Pertama, Ormada Tuban sebagai wadah persaudaraan sesama mahasiswa yang senasib sepenanggungan di luar kota. Adanya organisasi ini akan semakin memperbanyak relasi sesama teman satu daerah. Dalam Islam, persaudaraan begitu ditekankan dalam hubungan sesama manusia, sebagaimana dalam al-Qur’an surat Al-Hujurat (49): 13, dijelaskan:  Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal…….”. Potongan arti ayat ini menyiratkan kita untuk mencari teman atau relasi sebanyak-banyaknya dalam ikatan persaudaraan yang kokoh. Adanya Ormada Tuban akan semakin mempererat jalinan persaudaraan sesama saudara Tuban, yang dahulu tidak pernah kenal, melalui wadah ini dapat aling berinteraksi dan mengenal satu sama lain. Kedua, wadah Ormada Tuban ini menjadi sarana pengabdian mahasiswa Tuban kepada bumi kelahirannya. Ini sejalan dengan salah satu tri dharma perguruan tinggi, yaitu fungsi pengabdian masyarakat. Kalau di perguruan tinggi bentuk pengabdian msyarakat yang dilakukan dalam bentuk KKN (Kuliah Kerja Nyata) adalah tuntutan kewajiban kampus yang implikasinya pada kelulusan, sedangkan di Ormada Tuban pengabdian masyarakat adalah merupakan panggilan jiwa dari putra-putri daerah yang memang sudah seharusnya berkontribusi kepada bumi tempat kelahirannya. Ketiga, Ormada Tuban yang beranggotakan mahasiswa perguruan tinggi merupakan ujung tombak pengembangan ilmu pengetahuan di Kabupaten Tuban. Melalui kemampuan metodologi penelitian, mahasiswa asal Tuban dapat melalukan aksi-aksi sosialnya berlandaskan ilmu pengetahuan. Aksi sosial yang dibentuk dengan berbasis pada intelektualitas akan dapat tepat sasaran dan bermanfaat bagi masyarakat. Di samping itu, keberhasilan para anggota Ormada Tuban ini dapat ditularkan pula kepada para juniornya yang masih duduk di bangku sekolah, agar sejak dini lebih dapat mempersiapkan diri untuk belajar di perguruan tinggi ternama dengan bimbingan para seniornya tersebut. Keempat, terbentuknya Ormada Tuban ini memberikan informasi peluang karir tersendiri kepada para anggotanya. Sebagai mahasiswa, sudah barang tentu tujuan akhirnya adalah dapat berkiprah di dunia kerja sesuai dengan bidang keahlian yang dipelajari di perguruan tinggi tanpa mengesampingkan peran sosialnya. Interaksi yang terjalin di Ormada ini akan semakin memperkaya informasi para anggotanya akan adanya peluang kerja yang dapat dimanfaatkan, baik di daerah Tuban sendiri atau di luar wilayah Tuban. Setelah para alumninya dapat berkiprah di dunia kerja, maka peluang-peluang itu akan dapat dimanfaatkan pula kepada para juniornya yang masih harus menjalankan roda organisasi, begitu pula seterusnya. Nilai-nilai ini harus diinternaslisasikan di setiap ormada Tuban dan menjadi landasan di tiap kegiatannya.
Ekses-Ekses Negatif di Ormada Tuban
            Berdirinya berbagai Ormada Tuban di tiap kampus tidak dapat dupungkiri juga menimbulkan ekses-ekses negatif yang jika terus dibiarkan dalam jangka panjang akan berdampak buruk. Beberapa ekses negatif selama ini dapat penulis kelompokkan ke dalam tiga masalah. Pertama adalah masalah perbedaan kultur kampus. Pengelolaan kampus dalam dua pintu kementerian, yaitu Kementerian Pendidikan Tinggi (dulu Kemendiknas) dan Kementerian Agama menjadikan beberapa perguruan tinggi yang berada di dua naungan kementerian tersebut memiliki paradigma ilmu pengetahuan yang berbeda. Perbedaan institusional tersebut juga berimbas pada cara berpikir para mahasiswanya, dan bahkan pola hidupnya. Mahasiswa Tuban pun terpolarisasi dalam dua paradigma ilmu pengetahuan ini, dimana perguruan tinggi umum yang dikelola Dikti cenderung meganggap ilmu pengetahuan itu bebas nilai (value free) sebagai adopsi dari world view Barat, sehingga seakan-akan tidak ada campur tangan agama di dalam ilmu pengetahuan. Disisi lain kampus-kampus agama di bawah naungan Kemenag sedang gencar-gencarnya menggalakkan Islamisasi Ilmu Pengetahuan (Islamization of knowledge) yang menentang keras sekularisasi dan paham ‘ilmu bebas nilai’. Dalam bentuk yang ekstrim, kedua paradigma ini menjadikan Ormada tuban di kedua jenis kampus ini tidak mau melakukan interaksi yang terbuka dan cenderung menutup diri hanya pada internal Ormada-nya saja. Kedua, masalah gengsi antar kampus. Dalam pergaulan, biasanya terdapat perbedaan yang tajam antara mahasiswa Tuban yang kuliah di kampus negeri dan swasta, antara kampus besar dan kampus kecil, dan antara kampus mahal dan kampus murah. Kampus yang ternama mensiratkan para mahasiswanya adalah orang-orang yang cerdas, ber-IQ tinggi, profesional, tergolong kalangan menengah ke atas dan sebagainya. Sedangkan kampus yang kebih inverior terkesan mahasiswanya kurang cerdas, IQ-nya lemah, tidak profesional dan masuk kalangan menengah ke bawah secara ekonomi. Tidak dapat dipungkiri, pandangan dan gelagat seperti ini banyak ditemui di kalangan mahasiswa Tuban, yang menjadikan Ormada Tuban terpolarisasi dalam dua model kampus yang berbeda ini. Ketiga, adalah adanya sentimen ideologis dan politis dari gerakan mahasiswa yang berkembang di dunia kampus. Ormada Tuban adalah perkumpulan paguyuban mahasiswa Tuban yang terdiri dari lintas agama, lintas ideologi dan lintas pandangan politik. Ketika berada dalam naungan Ormada Tuban yang diikat oleh persamaan nasib yaitu sama-sama menimba ilmu di perguruan tinggi luar kota dan  lahir di daerah yang sama, maka berbagai warna bendera yang menjadi identitas setiap individu mahasiswa Tuban harus dilebur jadi satu dalam Ormada Tuban dengan visi yang sama, yaitu persaudaraan dan pengabdian. Latar belakang perbedaan tersebut justru harus dijadikan kekayaan sumber daya para anggota Ormada Tuban yang sangat bermanfaat bagi berjalannya organisasi. Jika di dalam tubuh Ormada Tuban ini ada motif ideologis dan politis yang sengaja disebarkan, maka akan menyebabkan kehancuran Ormada Tuban  sendiri di masa mendatang.

Menghapus Perbedaan Menyemai Kebersamaan
            Beberapa ekses di atas harus segera dicarikan solusinya dan jangan dibiarkan terus berlarut-larut. Segala ekses negatif di atas dapat diminimalisir dan bahkan dihapus dengan jalan tiap Ormada Tuban di  internal kampus yang memiliki beragai macam nama itu mau untuk membuka diri dan berdialog dengan Ormada sejenis di kampus lainnya. Membuka diri berarti bersedia untuk menerima kritik dan saran yang membangun bagi organisasinya, baik yang berasal dari internal organisasi atau dari luar. Kemudian membiasakan mangadakan forum-forum dialog antar Ormada Tuban dari kampus-kampus yang berbeda. Dari komunikasi tersebut akan ada saling share kekurangan dan kelebihan masing-masing, sehingga satu sama lain dapat saling belajar memperbaiki kekurangannya. Proses dialog yang intens perlahan-lahan akan dapat mengurangi ekses-ekses negatif di atas. Beberapa waktu yang lalu sempat ada forum bersama dari berbagai Ormada Tuban yang membahas bagaimana masa depan Ormada Tuban ini. Dari forum itu diputuskan di tiap perguruan tinggi luar kota Tuban harus dibentuk sebuah Ormada Tuban yang bertujuan mengumpulkan dan menyatukan para mahasiswa asal Tuban dengan nama dan model masing-masing kampus. Kemudian dalam tataran yang lebih luas dibentuk semacam forum komunikasi antar Ormada Tuban di semua kampus di tiap kota besar. Contoh baik adalah adanya FKMRT (Forum Komunikasi Mahasiswa Ronggolawe Tuban) se-Surabaya dan KPMRT (Keluarga Pelajar Mahasiswa Ronggolawe Tuban) se-Yogyakarta serta IMRT (Ikatan Mahasiswa Ronggolawe Tuban) di Jakarta. Ketiga bentuk forum komunikasi ini menjadi model yang akan dikembangkan ke depan, walaupun di dalamnya masih banyak kekurangan. Secara internal, Ormada di tiap kampus memiliki wadah sendiri dengan nama-nama yang berbeda dan menjalankan program organisasinya, kemudian agar dapat berinteraksi dengan Ormada-Ormada Tuban lain, maka dibentukah forum komunikasi seperti di atas. Demikian seterusnya, forum tersebut dibentuk di tiap kota besar yang di sana banyak terdapat mahasiswa asal Tuban, sampai pada level nasional. Akan tetapi semuanya masih terhenti pada tataran gagasan, oleh karena itu yang dibutuhkan sekarang ini adalah aksi tindakan nyata untuk merealisasikan hal itu.
Kerjasama dengan Pemerintah KabupatenTuban
            Soliditas Ormada Tuban baik di internal dan eksternal kampus yang sudah terjalin harus di sertai dengan kejelian membaca peluang yang ada. Peluang-peluang yang dimaksud di sini adalah adanya kebijakan maupun program-program dari pemerintah pusat, pemerintah propinsi maupun Pemkab Tuban sendiri. Dari program-program tersebut dicari yang berhubungan dengan kegiatan sosial bagi masyarakat Tuban, terutama yang membutuhkan. Apabila di dalam program-program tersebut terdapat peluang kerja sama, maka itu dapat dilakukan, yaitu bekerja sama antara Ormada Tuban dengan dinas pemerintah terkait untuk melalukan program kegiatan secara bersama. Apabila kesepakatan kerjasama itu berhasil, maka Ormada akan mendapatkan bantuan fasilitas dan dana yang memadai. Selama ini, hubungan dengan dinas terkait hanya sebatas koordinasi, belum sampai pada kerja sama yang serius. Seperti pameran pendidikan maupun bhakti sosial, masih dalam batas berkoordinasi dengan dinas pendidikan dan dinas sosial. Oleh sebab itu, diperlukan langkah yang real untuk menuju ke arah kerja sama, yaitu dengan melakukan audiensi atau forum bersama antara semua Ormada Tuban dengan Pemkab Tuban, dimana di sana dijelaskan program-program Ormada selama se-periode yang dicocokkan dengan program pemerintah, dan mencari peluang-peluang kerja sama yang dapat dilakukan. Sebetulnya, sudah menjadi kewajiban Pemkab Tuban untuk memfasilitasi dan mendukung program-program yang dilakukan Ormada Tuban yang sampai saat ini itu sangat minim diberikan. Walaupun begitu, Ormada sebagai bagian dari people power masyarakat Tuban juga tidak boleh kehilangan daya kritisnya terhadap segala penyelewengan yang dimungkinkan dilakukan oleh pemerintah.
Menyiapkan Wadah Lanjutan
            Hal lain yang perlu dilakukan adalah menyiapkan wadah lanjutan bagi para alumni Ormada Tuban tersebut. Selepas menimba ilmu di perguruan tinggi, kesibukan para alumni Ormada Tuban ini adalah masuk di dunia kerja. Mereka banyak yang berkarir di dalam wilayah Tuban sendiri dan ada yang memilih berkarir di luar Tuban. Di dalam wilayah Tuban, mereka dapat memanfaatkan jaringan alumni organisasi ini untuk berkarir dan bersama melakukan kiprah sosial dengan mendirikan sendiri Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Tuban, atau masuk pada Ormas-Ormas agama ataupun sosial yang sudah ada. Di mana semuanya diorientasikan untuk melanjutkan peran sosial dan pengabdian kepada daerah kelahiran kita. Sedangkan bagi para alumni Ormada Tuban yang berada di luar kota—yang kebanyakan kota-kota besar—dapat masuk pada organiasi paguyuban Tuban yang sudah ada, atau yang belum ada dapat mendirikannya. Misalnya di Jabodetabek ada PAWARTA (Paguyuban Warga Jakarta Asal Tuban) dan di Surabaya ada Paguyuban Ronggolawe. Anggota perkumpulan tersebut diisi oleh para pengusaha, dosen, tenaga profesional, pegawai pemerintah dan lain sebagainya yang berasal dari Tuban. Setelah berkiprah di Ormada Tuban selama menjadi mahasiswa, maka wadah selanjutnya adalah masik dalam perkumpulan warga Tuban yang berada dalam perantauan. Jaringan antara Ormada Tuban dan paguyuban warga asal Tuban ini dapat menjadi sarana untuk memberikan kiprah pengabdian bagi Tuban, meskipun mereka berada di luar wilayah Tuban. Demikian terus selanjutnya dari generasi ke generasi, melestarkikan persaudaraan, sukses bersama dan memberikan peran bersama sekecil apapun bagi kebaikan daerah dan masyarakat Tuban.
Wallahu 'A’lam……

0

Sebuah Nama Sebuah Cerita; Refleksi Kepengurusan IMARO 2009-2010

Posted by Unknown on 11.30 in


 Hantaran
IMARO adalah merupakan organisai paguyuban mahasiswa Tuban yang menimba ilmu di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Inilah ikrar bersama anggota IMARO, jadi dalam tubuh IMARO tidak boleh ada dominasi salah satu ORMEK (Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus) , karena pada hakikatnya dalam tubuh IMARO sendiri terdapat multi ORMEK yang masing-masing berkontribusi besar terhadap perkembangan IMARO. Tetapi, keberadaannya harus disimpan dalam-dalam untuk menghormati ideologi dan konstitusi IMARO sebagai organisasi paguyuban tanpa mempedulikan  kepentingan golongan.
  Pada  Tahun 2007, IMARO bangkit kembali dari tidur panjangnya. Pada saat itu bertepatan dengan adanya musibah banjir  yang menimpa Daerah Widang-Tuban, akhirnya jiwa-jiwa solidaritas kedaerahan muncul dan menggerakkan para sanior IMARO untuk menggalang dana bantuan yang disumbangkan kapada para korban banjir – sebut saja Cak Fahmi – bisa dikatakan dialah motornya IMARO saat itu. Inilah sebuah pemandangan yang kita rindukan saat ini, Akan tetapi, apakah kita harus menunggu Tuban banjir lagi?
Perjalanan Kepengurusan 2009-2010
Tahun 2009, FORTA diadakan, terpilihlah Mas Imam Ghozali sebagai penggantinya cak Fahmi. Seperti biasa, dalam prosesnya ada rekayasa saling debat mnunjukkan keburukan pengurus yang lain (sungguh pemandangan yang kurang baik di mata para kader), yang katanya itu sebagai bahan pembelajaran. Gak tahu lah..apa itu benar, yang jelas, hasilnya bisa dilihat pada kinerja dan antusias para anggota IMARO dalam berkegiatan.
            Perjalanan kepengurusan pada periode ini diawali dengan semangat yang membara dari para pengurusnya. Hal itu dapat dilihat pada penyusunan program kerja pada semua bidang yang bertempat di SMA Bina Bangsa Siwalan Kerto yang berakhir sampai dini hari jam 02.00  WIB pagi. Dari rapat itu dihasilkan berbagai macam program kegiatan yang besar dan sulit direalisasikan. Hal yang tidak seimbang terjadi ketika berjalannya masa kepengurusan. Semangat para pengurus IMARO tidak sebesar pada waktu penyusunan program. Banyak program yang tidak terlaksana pada semua bidang. Padahal job description sudah dijelaskan dan diberikan dengan baik. Memang idealitas yang tinggi sulit untuk dijadikan relitas apabila kurang adanya kesanggupan dan solidaritas yang tinggi, terlebih lagi karena benturan aktivitas kuliah yang menjadikan mahasiswa Tuban tidak bisa berkutik.
            Rapat kerja dilakukan dua kali selama kepengurusan, yaitu pada semester ganjil dan semester genap. Hal itu dipandang perlu karena satu Tahun itu merupakan waktu yang panjang dan pada masing-masing semester terdapat konteks situasi yang berbeda. Maka perlu dilakukan upgrade program kerja. Pada empat bidang, ada beberapa kegiatan besar yang terlaksana. Misalnya pada bidang kekaryaan, antara lain Bazar wisuda sarjana IAIN, Praktek Kerja Mahasiswa, Latihan Dasar Kepemimpinan dan sebagainya. Selain itu juga banyak sekali program yang tidak terlaksana. Pengadaan jaket IMARO, Pengadaan KTA , Training motivasi ke sekolah-sekolah dan lain sebagainya. Ini tidak dapat dipungkiri, karena memang kurang adanya kerja sama yang solid diantara pengurusnya, itu bisa dilihat ketika rapat bidang ataupun rapat panitia. Memang dalam organisasi itu yang terpenting adalah adanya saling pengertian dan rela berkorban demi kepentingan bersama. Akhirnya semua itu berimbas pada kinerja organisasi yang tidak bisa maksimal. Akan tetapi yang terpenting, walaupun semua itu sudah terjadi, jangan sampai ada rasa dendam ataupun saling menyalahkan. Hubungan baik harus tetap terjalin satu sama lain.
Sebuah Rekomendasi
            Dunia perkuliahan merupakan fase dimana kita dituntut untuk serius 100 persen agar nantinya lulus dengan nilai yang memuaskan. Hal itu sangat benar, karena dari rumah niatan kita memang untuk belajar ilmu perkuliahan, bukan untuk yang lainnya. Orang tua kitapun telah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, semua itu demi kita, agar nantinya menjadi orang sukses, baik secara akademis ataupun finansial. Akan tetapi perlu diingat kawan, pintar secara akademis saja tidak cukup. Kita perlu belajar berinteraksi dengan lingkungan sekitar untuk lebih tahu banyak hal yang tidak bisa kita dapatkan di bangku kuliah. Selain itu juga untuk menjalin persahabatan dan jaringan dengan orang-orang yang kredibel di sekitar kita. Organisasi adalah tempat yang paling tepat untuk merealisasikannya.
            Di dunia kampus banyak sekali wadah organisasi untuk mengaktualisasikan kapasitas diri kita. Pilihan ada di tangan kita, sesuai dengan ideologi, minat, bakat, hobby dan sebagainya. Tetapi satu yang perlu diingat, sebagai warga Tuban, kita tidak akan terlepas dari ikatan persaudaraan dan letak geografis ini. Satu tempat, yaitu Ikatan Mahasiswa Ronggolawe (IMARO) Tuban. Tidak ada yang bisa mengeluarkan kita dari keanggotaan, karena kita tetap menjadi mahasiswa asal Tuban. Sebagai satu daerah, kurang etis kalau kita tidak mau berinteraksi dengan teman sesame satu daerah.
            Selanjutnya, dari sekian lama IMARO eksis dengan kegiatannya, ada beberapa hal yang bisa dijadikan renungan dan sekedar sumbangan ide untuk kesuksesan IMARO ke depan. Pertama, Seyogyanya IMARO harus dan harus menjaga netralitas organisasi dari segala bentuk dominasi dan misi-misi organisasi ideologis lainnya. Jika itu bisa dilakukan, niscaya IMARO akan semakin mendapat perhatian di mata kadernya dan para alumni, serta dosen-dosen asal Tuban. Tetapi, jika sebaliknya yang terjadi, maka IMARO tidak lebih akan hanya menjadi sebuah nama saja yang tidak memiliki independensi. Kedua, Hendaknya Penyusunan program kegiatan disesuaikan dengan kapasitas kemampuan dan nilai urgensitas kegiatan itu. Maka, perlu adanya seleksi dengan memprioritaskan kegiatan yang paling penting, agar nantinya tidak ada program yang gagal terlaksana. Ketiga, Setelah program terseleksi dan di tetapkan, harus dilaksanakan dengan penuh rasa tanggung jawab dan istiqomah. Jangan karena egoisitas pribadi, kita membiarkan koordinator bidang bekerja sendiri, itu sama halnya kita mendholimi teman sendiri. Keempat, adanya pola komunikasi yang berbasis kekeluargaan dalam struktur IMARO. Dengan cara itu, segala problem akan terselesaikan dengan baik dan tidak ada pihak yang dirugikan. Selain itu, komunikasi semacam ini akan memperindah hubungan koordinatif ataupun instruktif di kepengurusan. Bukan dengan cara penghakiman pihak yang bersalah, itu akan semakin menimbulkan perpecahan di tubuh IMARO sendiri. Kelima, Dalam LPJ harus ada koordinasi internal yang baik dari kepengurusan dan biarkanlah peserta sidang menilai dengan objektif dan alami, tanpa adanya sekenario yang dibuat-buat. Jujur saja, di mata penulis sendiri itu justru menimbulkan kesan yang buruk di mata semua pihak. Semua pengurus harus kompak dan bersatu mempertanggung jawabkan kepengurusannya, bukan justru saling menyalahkan satu sama lain, itu sama dengan membuka aib sendiri. Terakhir, yang kekenam, dalam bidang eksternal, hubungan IMARO dengan alumni, para dosen asal Tuban dan saudara –saudara Tuban di luar IAIN (kampus lain) perlu sekali diperbaiki. Untuk alumni dan para dosen, bisa dimulai dengan pendataan nama-namanya, tempat tinggalnya dan sebagainya untuk kemudian kita undang dalam berbagai even di IMARO. Selain itu, pada momen-momen tertentu kita juga bisa sillaturrahim ke tempat tinggal mereka. Tidak kalah pentingnya adalah saudara Tuban di luar IAIN, terutama di Tuban sendiri. Disana ada UNIROW, UNANG, STITMA, STIE Muhammadiyah, AKPER, dan STIKES NU, sedangkan untuk di Surabaya juga perlu dijangkau, seperti teman-teman kita di UNESA, UNAIR, ITS, UPN dan lain-lain. Penulis merindukan semua teman-teman kita ini bisa bersatu dalam wadah yang lebih luas. Kemudian dalam berbagai kegiatan bisa saling menukarkan delegasinya. Seperti kata Cak Umam, “Apabila ada paguyuban mahasiswa Tuban yang lebih luas, maka itu akan semakin baik, asalkan kita masih diberikan otonomi untuk mengatur IMARO sendiri di IAIN”. Yah, itu semua memang butuh proses.
            Demikianlah sekelumit tulisan kegundahan hati yang ingin disampaikan penulis. Adanya tulisan ini bukan berarti penulis bebas dari kesalahan di IMARO, justru banyak sekali kekurangan dan sedikit sekali kontribusi penulis di IMARO. Akan tetapi, walaupun demikian, besar sekali harapan penulis dan kita semua agar bagaimana paguyuban mahasiswa Tuban ini dapat tetap eksis dan berkembang dengan baik di IAIN, Surabaya, Jawa Timur, bahkan di Indonesia.
Wallahu a’lam Bis-Showab


Copyright © 2009 TANPA BATAS All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.