Tampilkan postingan dengan label Biografi.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biografi.. Tampilkan semua postingan
0

Cerita Saya (2)

Posted by Unknown on 07.03 in

Pesantren al-Jihad yang Tradisonal dan Moderat
            Mungkin agak berbeda dengan teman-teman yang getol sekali sebagai aktifis, saya lebih memilih tinggal di pesantren dari pada di kos atau di sekretariat organisasi. Padahal dengan tidak terikat dengan pesantren, itu bisa membuat saya lebih bebas dalam berekspresi dan mengembangkan diri. Memang hal itulah yang menjadi pilihan saya, dengan mengikat diri dengan pesantren, saya lebih bisa mengatur  jadwal aktifitas sehari-hari. Tahun pertama sampai dengan tahun ketiga saya menjadi santri Pon.Pes Mahasiswa “Al-Jihad” Jemursari Surabaya atas bimbingan Drs. K.H. M. Imam Hambali. Saya memilih pesantren ini karena suasananya yang rapi dan bersih, selain itu kegiatan ubudiyah-nya juga terjaga dengan baik.  Ada pelajaran berharga yang saya dapatkan selama berada di sini, yaitu teladan yang diberikan oleh Sang Pengasuh, tentang pentingnya arti istiqomah dalam melakukan ubudiyah, pentingnya sebuah profesionalisme dalam bekerja dan pentingnya disiplin waktu dalam segala aktifitas kehidupan kita. Secara garis besar, ada tiga poin tersebut yang bisa saya simpulkan. Banyak sekali aktifitas yang diwajibkan di pesantren ini, sedikit bisa saya sebutkan adalah diharuskannya mengikuti semua ubudiyah di pondok, mulai dari Sholat Maktubah, Sholat Tahajjud, Yasinan, Amalan Asma’ al-Husna, pengajian “Rahmatan lil ‘Alamin” setiap bulan, Milad Pondok tiap tahunnya dan lain sebagainya. Selain itu, juga ada kegiatan ta’lim harian yang harus kami ikuti, antara lain; intensif bahasa Arab dan Inggris, intensif Al-Qur’an di waktu malam dan ta’lim beberapa kitab kuning di waktu pagi setelah shubuh. Adapun kitab-kitab yang dikaji antara lain; Tafsir al-Ibriz yang diasuh sendiri pengasuh, Nasha’ih al-Ibaad, Minhaj al-‘Abidin, Qurrah al-‘Uyuun, Fiqh al-Manhaji dan Tuhfath al-Thullab. Kalau dilihat dari macam kitabnya dangat banyak, akan tetapi sayangnya semua tidak sampai selesai, karena kurangnya intensitas waktu mengaji dan kurang adanya perencanaan yang matang tentang target yang diharapkan. Kalau bisa dikatakan, satu kitab pun tidak akan khatam sampai setahun ditambah lagi saya pindah dari pondok satu tahun sebelum lulus. Akan tetapi, walaupun begitu, rentang waktu tiga tahun tersebut memberikan pengalaman spiritual yang sangat berharga bagi saya pribadi. Kultur tradisional sangat kental disini, artinya tidak jauh beda dengan di tempat kelahiran saya, disini juga dilaksanakan kegiatan rutinan sholawat, seperti Shalawat Burdah, Maulid Diba’i, Maulid Barzanji, Istighosah, Tahlil dan tidak ketinggalan adalah do’a Qunut di sholat shubuh. Anehnya, kepengurusan yayasan ini dipegang oleh orang-orang yang berbeda kultur dalam beribadah, tetapi semuanya rukun dan tidak pernah ada perdebatan yang berarti. Mungkin hal ini yang menyebabkan jumlah rakaat tarawih di sini cuma delapan rakaat, berbeda dengan masjid-masjid kebanyakan yang memegang teguh dua puluh rakaat. Kebersamaan saya dengan teman-teman di sini harus berakhir, karena saya mengambil keputusan untuk pindah ke tempat lain sebelum lulus kuliah. Di sini pula saya juga sempat menjadi guru TPQ dan guru intensif al-Qur’an kurang lebih selama 4 bulan, selanjutnya karena saya harus pindah asrama, maka aktifitas tersebut juga saya tinggalkan, berat rasanya.

Hijrah ke Ma’had Umar ibn al-Khattab yang Jauh Berbeda
            Tepatnya pada akhir semester 6 atau awal semester 7, saya hijrah dari pesantren al-Jihad menuju ke sebuah pesantren/ma’had yang sangat berbeda corak peribadatannya. Sebetulnya saya sangat enggan untuk pindah ke tempat lain, akan tetapi ada beberapa hal yang membuat saya sangat tertarik untuk pindah ke sana, ke sebuah ma’had yang bernama “Umar ibn al-Khattab” di kompleks Perum. Gunung Anyar Surabaya. Hal tersebut di mulai ketika adanya brosur yang beredar di ponpes al-Jihad, bahwa ada sebuah ma’had yang juga sebuah kampus, membuka program pendidikan gratis. Bidang pendidikan yang ditawarkan adalah D2 Bahasa Arab, S1 Syari’ah dan Tahfidz Qur’an 2 Tahun. Kesemuanya itu gratis tanpa biaya, hanya untuk buku-buku ajarnya saja kita harus  membelinya sendiri. Karena memang di ponpes al-Jihad saya merasa tidak puas, saya tidak bisa mengembangkan keilmuan bahasa Arab dengan baik dan maksimal, maka pilihan D2 Bahasa Arab di sana sangat menarik. Akhirnya setelah masa PPL (Praktek Mengajar) selesai, saya langsung mendaftar disana dan alhamdulillah lulus tes. Selain mendaftar di kampusnya, saya juga masuk pada asrama mahasiswanya, karena biayanya memang sangat murah, yaitu satu semester hanya diwajibkan membayar Rp 150.000,-. Dengan harapan bisa meningkatkan kemampuan muhadatsah saya di sana, maka artinya saya harus pindah ke asrama/maskan Ma’had Umar ibn al-Khattab. Akhirnya, saya menjalani dua perkuliahan sekaligus, di IAIN Sunan Ampel yang tinggal setahun lagi dan di Ma’had “Umar ibn al-Khattab” ini selama dua Tahun. Pertimbangan saya saat itu, saya pasti bisa menjalani dua kewajiban itu sekaligus, karena memang di kampus IAIN tinggal ada dua mata kuliah lagi dan jarak dari IAIN ke Ma’had Umar cukup dekat, hanya sekitar 5 km (butuh waktu sebentar jika ditempuh dengan motor).
Sekilas tentang Ma’had Umar ibn Khattab, institusi ini berada di bawah naungan Yayasan Asia Muslim (Asia Muslim Charity Foundation) yang berada di luar negeri. Selain ma’had ini, ada puluhan ma’had lain di seluruh Indonesia yang berada di bawah naungannya. Kemudian dalam operasionalnya di Indonesia, yayasan tersebut berafiliasi dengan Universitas “Muhammadiyah” di seluruh Indonesia. Semua biaya pendidikan dari fasilitas kampus, gaji dosen dan sebagainya ditanggung oleh yayasan tersebut. Hal yang lain adalah bahwa di ma’had ini, budaya keagamaannya sangat berbeda dengan kampung halaman saya dan ponpes al-Jihad sebelumnya. Sebelumnya masuk ke sini saya sudah menyadari dan menyiapkan mental, bahwa saya akan masuk di lingkungan “Muhammadiyah” yang berbeda madzhab dalam masalah ubudiyah. Akan tetapi ada hal lain yang saya ketahui disini, ternyata sebagian besar mahasiswa dan para dosen justru banyak yang bukan dari Muhammadiyah, mereka cenderung lebih kaku dalam pandangan keagamaan. Sering sekali saya mendapat penjelasan di kelas yang menyudutkan semua amalan yang saya lakukan sejak kecil, di samping itu, topik diskusi para mahasiswa di asrama juga tidak jauh berbeda dan ujung-ujungnya saya pasti tahu apa kesimpulannya. Akan tetapi, semua itu adalah sunnatullah, perbedaan pendapat adalah sebuah keniscayaan dalam kehidupan manusia. Hal yang harus kita lakukan adalah bersikap toleran, bukan sebaliknya merasa benar sendiri dan menyalahkan orang lain. Saya menghadapi semua itu dengan santai, mengalir dan menganggap hal itu biasa saja, dalam bergaul saya menghindari pembahasan furu’iyyah tersebut.  Adanya hal ini semakin membuat saya bersemangat untuk terus mencari dan mencari hujjah yang paling mendekati kebenaran, karena saya sadar bahwa kebenaran mutlak hanyalah milik Allah. Tapi, dibalik itu semua, belajar disini sungguh sangat menyenangkan dan menenangkan, karena suasana belajarnya sangat kondusif ditambah semangat para santri/mahasiswanya yang luar biasa. 
Enam bulan berjalannya perkuliahan, saya merasakan beban yang luar biasa. Pertama adalah dikarenakan seringnya saya tidak masuk kuliah disini, karena harus masuk di kampus Sunan Ampel yang sering kali jamnya bertabrakan. Karena terlalu seringnya izin, para dosen sudah mengeti kalau saya pasti tidak masuk pada hari-hari tertentu. Kedua, dengan padatnya jam kuliah di ma’had ini, menjadikan saya terlena dan melupakan kewajiban saya menyelesaikan skripsi saya di kampus IAIN Sunan Ampel. Ketiga, dikarenakan saya harus mengikuti KKN (Kuliah Kerja Nyata) di daerah Bojonegoro –Jawa Timur selama satu bulan, jadi selama satu bulan penuh itu saya tidak masuk kuliah di ma’had. Tentunya saya harus tau diri, seorang mahasiswa/santri yang tinggal di maskan akan sangat tidak etis kalau sering membolos, apalagi di asrama ini semua santri mendapat keringanan biaya, bisa dibayangkan betapa kondisii saya menjadi semakin sulit.
Pada akhirnya, saya memutuskan untuk berhenti kuliah di ma’had Umar ibn al-Khattab dan menyelesaikan skripsi saya hingga selesai dan lulus. Ternyata berat juga menjalani dua konsentrasi sekaligus, harus ada yang lebih diutamakan dan harus dikorbankan. Akhirnya, kuliah di ma’had ini yang harus saya korbankan. 

Mampir ke Pesantren an-Nur yang agak Liberal
            Pasca kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN), saya disibukkan dengan aktifitas membuat laporan KKN. Membuat laporan KKN itu ternyata lebih sulit dari pada pelaksanaan KKN-nya itu sendiri, karena kita diharuskan mengingat-ingat lagi pelaksanaan KKN yang telah berlalu dan harus mengedit semua setoran laporan dari para anggota KKN yang semuanya terpotong-potong dan sangat sulit untuk dijadikan satu rangkaian utuh, maklum, menjadi kordes (Koordinator      Desa) yang  kelompoknya selalu berkonflik, harus ada pengorbanan. Nah, pada saat itu status saya sudah tidak mempunyai tempat tinggal, karena sudah menyatakan keluar dari Ma’had Umar ibn al-Khattab, tapi waktu menuntut saya untuk secepatnya menyelesaikan laporan itu. Akhirnya, ada tawaran dari seorang teman, Khafid namanya, dia menawarkan tinggal di UKM Musik Fakultas Tarbiyah sampai laporan bisa terselesaikan. Jadi, posisi saya pada saat itu seperti orang hilang yang numpang hidup di kampus. Sampai kurang lebih lima hari berada di kantor UKM Musik, akhirnya saya memutuskan harus mencari tempat tinggal secepatnya, untuk menyelesaikan laporan ini dan mengerjakan skripsi saya nantinya.
            Saya sempat mempunyai rencana untuk kembali ke Pon.Pes al-Jihad, tapi ada rasa segan dengan Bapak Pengasuh, karena sebelumnya sudah benar-benar pamitan boyong dan pindah asrama. Akhirnya, di belakang kampus juga terdapat pesantren mahasiswa lain untuk putra dan putri, di samping itu pengasuh Pondok tersebut juga sangat terkenal keilmuannya di kampus, khususnya dalam Studi Islam-nya. Beliau adalah Dr. K.H. Imam Ghazali Said, MA., dosen Sejarah Peradaban Islam pada Fakultas Adab yang telah menamatkan S1 sampai S2-nya di Mesir dan Sudan – Timur Tengah, karena hal itulah saya memutuskan untuk masuk di pesantren tersebut.  
            Saya tinggal di pesantren ini selama kurang lebih 6 Bulan, sama ketika di pesantren al-Jihad dahulu, menjadi santri dan sekaligus menjadi mahasiswa. Kegiatan di pesantren ini hampir sama seperti pesantren mahasiswa pada umumnya. Sholat maktubah berjamaah, kajian pagi setelah shubuh, dan intensif  bahasa Arab dan bahasa Inggris. Hanya saja di sini, kegiatan mengaji (ta’lim) setelah shubuh sangat ditekankan dan diutamakan. Dari sekian banyak santri, dibagi ke dalam tiga kelas yang semuanya diajar oleh guru yang berbeda dan dengan kitab yang tidak sama. Setiap santri dibebaskan untuk memilih kelas mana yang menjadi minatnya dan harus konsisten dengan pilihannya, karena setiap hari diadakan pengabsenan. Kalau saya pribadi, mengikuti kelasnya Bapak Pengasuh Pondok, dengan kitab yang dikajii antara lain; Muhtashar Ihya’ Ulum al-Din, Riyadh al-Shalihin dan Kitab Iqadh al-Himam fi Syarh al-Hikam. Sebelum saya masuk di pesantren ini, sudah banyak pula kitab-kitab lain yang sudah selesai dikaji. Sedangkan untuk kegiatan intensif bahasa, pembelajarannya dibagi dalam dua bagian. Pada semester ganjil selama 6 bulan, diajarkan secara intensif materi bahasa Arab, kemudian pada semester genap berikutnya selama 6 bulan diajarkan materi bahasa Inggris. Semua itu bertujuan agar materi dapat diserap secara maksimal oleh para santri. Pelaksanaanya hampir sama, santri dibagi ke dalam beberapa kelompok sesuai dengan kemampuan. Di masing-masing kelas tersebut,  materi yang diajarkan disesuaikan dengan kemampuan santri.
            Melihat program pesantren yang begitu banyak dan tertata rapi seharusnya semua berjalan dengan baik pula. Akan tetapi, sebagian besar santri terutama santri putra, enggan melaksanakannya dengan sepenuh hati. Permasalahannya sama dengan pesantren yang lain, yaitu banyak santri yang menganggap hidup di pesantren sama dengan di kos-kosan. Santri di sini aneh, mereka meninggalkan aktifitas pondok bukan karena sibuk bekerja sampingan atau karena aktif di organisasi, tapi mereka hanya ingin mencari kesenangan pribadi dan ingin bebas.  Akibatnya, Pak Yai Ghozali marah-marah terus setiap hari.
            Di musholla putra yang kecil itulah, saya mempelajari pemikiran dan argumen Bapak Dr. K.H. Imam Ghazali Said, MA. – seorang Kyai yang berwawasan luas dan berani mengeluarkan argumennya walau berbeda dengan kebanyakan orang. Karena jalan pikiran dan argumen beliaulah, banyak Kyai sepuh di kalangan Pengurus Wilayah Nahdhatul Ulama (PWNU) yang berseberangan dengannya. Hal itu mungkin yang menyebabkan beliau tidak masuk dalam jajaran pengurus wilayah NU, hanya duduk di Syuriyah PCNU Surabaya saja. Kalau boleh saya petakan, ada beberapa pelajaran yang bisa saya ambil dari Pak Yai Ghozali. Pertama, beliau mengajarkan arti sebuah objektifitas, dengan objektifitas itu cukup untuk kita jadikan dasar dalam berpijak, khususnya dalam ritual keagamaan. Dalam hal ini beliau mengajarkan kita untuk tidak bertaqlid buta dengan ajaran leluhur, tapi benar-benar selektif melakukan kajian, apakah ajaran itu sejalan dengan pesan agama atau tidak. Kalau boleh saya berpendapat, beliau adalah pembawa arus baru dalam NU, bahwa dalam menghadapi tantangan kaum tekstualis dan literalis kita juga harus melawannya dengan pendekatan yang sama. Satu contoh, dalam sebuah buku karangan beliau yang berjudul “al-Ad’iyyah wa al-Adzkar” atau kumpulan doa dan dzikir, di setiap teks dzikir dan do’a yang tertulis disertai dengan in note (catatan perut) sumber dari hadits dan al-Qur’an. Berbeda dengan buku-buku pada umumnya yang menuliskan banyak teks dzikir dan do’a tapi tidak jelas rujukannya. Dengan demikian, keterangan tersebut secara otomatis dapat menghindari anggapan bid’ah dan bahkan sesat. Kedua, beliau menekankan bahwa kita harus terus berpikir dan mencari jawaban setiap problematika di masyarakat. Nah, dari pemikiran yang mendalam tersebut akan tercipta gagasan yang orsinil dan berasal dari kita sendiri. Kalau kita sudah meyakini bahwa gagasan itu benar, kita harus berani untuk mengungkapkan gagasan itu dengan rasionalisasi yang logis, meskipun itu bertentangan dengan kebanyakan orang. Kalau memang gagasan kita baik, tentu akan banyak yang sepakat, tapi jangan sampai itu membuat kita besar kepala. Sebaliknya, kalau gagasan kita tersebut terbukti kurang sesuai sebagai solusi permasalahan, maka kita harus berbesar hati untuk mengakui bahwa kita salah. Ketiga, beliau berpesan tentang kesuksesan, masih saya ingat kata beliau yang mengambil sebuah hasil penelitian di Amerika Serikat. Dari penelitian tersebut disimpulkan bahwa 85 % kesuksesan seseorang itu ditentukan oleh relasi (public relations), sedangkan sisanya 15 % ditentukan oleh kecerdasan dan kekayaan. Jadi, disini dapat ditarik pelajaran bahwa kita harus memperbanyak silaturrahim dalam hidup ini, dengan siapapun. Aktif di organisasi, menjadi aktifis sosial, banyak bergaul, semua itu menjadikan kita dapat memperoleh banyak relasi. Dari banyaknya relasi tersebut akan mempermudah kita, jika kita mengalami kesulitan dalam hal mengembangkan usaha atau yang lainnya. Kita tidak boleh cepat bangga dengan jumlah IPK (Indeks Prestasi Komulatif) yang cumlaude atau puas dengan kekayaan orang tua, karena semua itu tidak akan bisa berkembang tanpa adanya relasi yang luas. Melalui public relation itu, kita dapat terus belajar dari orang lain dan bisa mengembangkan bakat, ilmu maupun kegiatan usaha yang kita miliki.
            Sambil berada di pesantren ini pula, saya menjalani aktifitas sambilan. Saya sempat menjadi guru privat al-Qur’an selama 1 bulan dan menjadi guru TPQ kembali di tempat yang berbeda selama kurang lebih 3 bulan. Walaupun penghasilan yang saya dapatkan tidak ada apa-apanya, tapi banyak pengalaman mengajar yang saya dapatkan di sini. Akan tetapi, aktifitas tersebut saya hentikan semuanya, dikarenakan saya harus menyelesaikan skripsi yang sudah telat deadline, lagi-lagi saya dihadapkan pada dua pilihan, ingin cepat lulus dengan meninggalkan segala aktifitas sampingan atau tetap mempertahankannya, tapi lulusnya belakangan.

Akhirnya Lulus Juga
            Tepatnya pada Bulan Oktober 2011, saya selesai mengerjakan skripsi dan di bulan itu pula saya diwisuda. Setelah melalui perjuangan panjang dan menjemukan, akhirnya saya bisa lulus ujian juga. Saya menyelesaikan skripsi atas bimbingan Bapak Syafi’i, M.Ag. yang juga adalah sekretaris jurusan PBA. Sebelumnya, saya hampir putus asa, karena judul skripsi saya baru diterima setelah dua bulan lamanya, tentunya dengan berpuluh-puluh judul yang telah saya ajukan. Ya, judulnya cukup simple, tapi cakupannya luas sekali, yaitu “Dirasah ‘an Nidham Ta’liim al-Lughoh al-‘Arabiyyah fi Fashl al-Lughoh wa Fashl Ghoir al-Lughoh bi al-Madrasah al-Tsaanawiyyah al-Hukuumiyyah Tuban” (Studi Tentang Sistem Pembelajaran Bahasa Arab Kelas Bahasa dan Kelas Non Bahasa di Madrasah Aliyah Negeri Tuban). Dalam skripsi ini, saya harus menguraikan semua komponen sistem pembelajaran satu persatu. Antara lain; tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, media pembelajaran dan evaluasi pembelajaran pada materi bahasa Arab di kelas jurusan Bahasa, IPA dan IPS. Akan tetapi, saya sangat bersyukur kepada Allah, karena saya dapat melewati ujian skripsi yang sangat menegangkan kala itu dengan dosen penguji Bapak Al-Qudus NES, Lc, M.HI. dan Bapak Dr. Muhammad Baihaqi, MA., dua orang dosen yang telah lama belajar di Timur Tengah.
Tepatnya pada hari Sabtu, tanggal 8 Oktober 2011, wisuda saya akan dilaksanakan. Malam sabtu sebelum saya diwisuda, di halaman Pesantren An-Nur Wonocolo diadakan wisuda terlebih dahulu secara internal pondok. Semua peserta adalah mahasiswa IAIN Sunan Ampel angkatan 2007 dengan jurusan yang bermacam-macam. Acaranya beraneka ragam, mulai acara ceremonial yang terdiri dari pembukaan, pembacaan ayat suci al-Qur’an dan sambutan. Pada acara inti, adalah sambutan dari perwakilan wisudawan/i yang menyampaikan pesan dan kesan selama kuliah dan selama berada di pesantren, kemudian dilanjutkan dengan ceramah dari Bapak Pengasuh, Dr.K.H Imam Ghazali Sa’id, MA., yang akrab disapa dengan “Abi”. Kurang lebih yang disampaikan pengasuh adalah seperti yang saya uraikan sebelumnya. Setelah itu, dilanjutkan dengan pemberian cindera mata dari para wisudawan kepada pengasuh, berupa buku-buku bacaan penunjang perkuliahan. Buku tesebut dapat dijadikan koleksi perpustakaan An-Nur dan bisa bermanfaat bagi semua santri. Acara ditutup dengan do’a dari pengasuh dan diakhiri dengan hiburan drama dari beberapa teman. Dengan sekian banyaknya acara, tidak terasa semuanya baru selesai pada pukul 23.00 WIB malam, kemudian sebelum tidur, saya mempersiapkan semua peralatan untuk wisuda keesokan harinya, mulai dari sepatu, dasi, dan pakaian toga wisuda.
            Pagi harinya, Sabtu 8 Oktober 2011, wisuda sarjana ke 66 dilaksanakan. Saat itu lapangan olahraga IAIN Sunan Ampel penuh dengan mahasiswa yang berpakaian toga mulai dari program doktor, magister dan sarjana, jumlah seluruh wisudawan/i adalah 1.233 orang. Acaranya seperti biasa, mulai dari pembukaan, pembacaan ayat suci al-Qur’an dan sambutan Pgs. Rektor, saat itu disampaikan oleh Prof. Dr. H. Abd. A’la. MA, pembantu rektor bidang akademik dan pengembangan SDM, hal itu dikarenakan Pak Rektor-Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si-sedang ada tugas dinas di Jakarta. Kemudian acara dilanjutkan dengan prosesi wisuda yang memakan waktu sangat lama, dimulai dari program doktor (S3) dengan jumlah 13 orang, kemudian magister (S2) sejumlah 217 orang dan terakhir program sarjana (S1) sejumlah 1.003 orang. Acara selanjutnya adalah orasi dari wisudawati terbaik program doktor yang mengkritisi tentang salah kaprahnya praktek pendidikan di Indonesia. Pada acara terakhir, adalah pengucapan janji wisudawan secara bersama-sama hingga acarapun selesai. Maksud hati ingin tinggal sekitar 2 mingguan lagi di Surabaya, akan tetapi orang tua memerintahkan untuk langsung pulang ke Tuban bersama dengan rombongan setelah bersama berpamitan dengan pengasuh Pesantren An-Nur. Kurang lebih pukul 16.00 WIB sore saat itu, kami (Bapak, Ibu, paman dan saudara) berangkat dari Surabaya ke Tuban dan sampai di rumah, sekitar pukul 21.00 WIB malam, karena ban mobil sempat meletus di Gresik. 

Paradoks Gelar Sarjana
            Gelar sarjana adalah sebagai akhir dari sebuah formalitas pencarian ilmu yang terlembagakan dalam sebuah institusi perguruan tinggi. Tergantung orangnya, apakah dia sudah puas dengan gelar sarjana-apapun disiplin ilmunya-dan berbangga diri karena menjadi superior di tempat kelahirannya, ataukah dia hanya menganggap itu adalah formalitas yang tidak ada artinya, melainkan hanya sebuah pemantik semangat untuk terus memperdalam disiplin ilmunya dan mencari hakikat kebenaran dengan segala upaya serta ini menjadi momentum awal perjuangan yang sesungguhnya. Semuanya lagi-lagi kembali kepada akal dan hati nurani sang penyandang gelar tersebut, karena pada hakikatnya dapat lulus dari sebuah institusi pendidikan adalah hal sangat mudah, semua bisa di dapat, bahkan oleh orang yang hanya berniat mencari gelar sarjana belaka, tanpa berpikir panjang ilmu apa dan kualitas apa yang di dapat dari proses belajar di perguruan tinggi serta kontribusi apa yang nantinya akan diberikan kepada msyarakat.
            Realitas yang penulis alami sendiri, adalah banyak diantara teman-teman penulis yang belajar di perguruan tinggi hanya sebatas bertujuan untuk memperoleh lapangan pekerjaan. Kemudian dengan pekerjaan itu ia gunakan untuk memperkaya diri. Setelah itu, mereka puas dengan apa yang dicapai, kemudian menganggap bahwa itu adalah sebuah capaian kesuksesan. Akibatnya, dalam perkuliahan terjadi kecurangan di mana-mana, semua cara dilakukan untuk memperoleh nilai A+ atau pujian dosen. Bahkan, skripsi pun bisa dipesankan, asalkan ada uang, semua bisa jadi sesuai pesanan, kemudian pada akhirnya dia dapat lulus. Ini adalah fenomena di sebuah perguruan tinggi negeri. Akhirnya, banyak praktisi dengan gelar sarjana, tapi tidak memenuhi kualifikasi skill yang memadai di bidangnya masing-masing.
            Menurut hemat saya, sebagai agent of change dan agent of social control, kaum intelektual yang memiliki kesempatan menempuh pendidian tinggi harus terus memupuk idealisme yang dalam dan konsisten membawanya hingga akhir hayat. Banyak oknum dari kaum intelektual yang bergelar magister, doktor, bahkan profesor, akan tetapi tidak jarang mereka melakukan tindakan yang kurang pantas untuk mencapai segala apa yang diinginkan. Sebut saja semakin menggunungnya kasus korupsi di tanah air, perbuatan tersebut bukan dilakukan oleh orang yang bodoh, melainkan oleh kaum intelektual lulusan perguruan tinggi. Bahkan yang disayangkan, penyakit tersebut juga menjangkit kepada para mantan aktivis yang semasa mudanya sangat konsisten menentang penindasan terhadap para mustad’afiin yang khususnya dilakukan oleh para pejabat negara. Mereka lupa dengan apa yang mereka perjuangkan.
Ini adalah tantangan kita bersama, bagaimana sebisa mungkin menjadi sarjana yang berkualitas sesuai dengan bidang keilmuannya dan menghiasi diri dengan al-akhlaq al-karimah dalam mengimplementasikan ilmu di masyarakat. Semoga segala ikhtiyar saya pribadi dan kita semua selalu disertai dengan pertolongan Allah Swt., agar kita selalu ingat bahwa segala perjuangan apapun yang kita lakukan adalah untuk Allah Swt.
            Sikap yang harus kita pertahankan adalah terus belajar tiada henti, sehingga keilmuan kita pasca pesantren maupun perkuliahan dapat terus berkembang. Kemudian yang tidak kalah pentingnya adalah sikap rendah hati yang harus selalu kita pupuk di dalam hati sanubari kita. Karena dalam sebuah sya’ir dijelaskan: “Ilmu adalah ibarat air hujan yang tutun ke bumi manjadi banjir, dia tidak akan mengalir ke tempat yang tinggi, melainkan akan terus mencari tempat yang lebih rendah. Begitu pula ilmu, dia tidak akan pernah memenuhi akal dan hati seseorang yang ada rasa sombong di dalamnya, melainkan akan memenuhi seseorang yang memiliki sifat tawadhu’ dan rendah hati”. Jadi, dapat dimengerti bahwa indikator orang yang ‘alim adalah adanya sifat rendah hati yang tertanam dalam sanubari dan tercermin dalam perilaku sehari-harinya.



0

Cerita Saya (1)

Posted by Unknown on 06.50 in
Kelahiran di Kampung
Saya dilahirkan di Sebuah Dusun yang kecil, Dusun “Banggel” namanya. Dusun kecil itu berada di Desa Sambonggede Kecamatan Merakurak Kabupaten Tuban, pada tanggal 25 Maret Tahun 1989. Menjadi anak laki-laki pertama, adalah sebuah takdir dari Tuhan untuk saya, dari pernikahan pasangan Ahmad Bahmulya dan Rasmiyati yang kemudian keduanya menjadi orang tua kandung saya sampai kapanpun. Bapak saya -Ahmad Bahmulya- adalah super hero bagi saya. Beliau tumbuh dalam kondisi keluarga yang kekurangan tanpa asuhan Sang Ayah, yaitu kakek saya sendiri, Almarhum Bapak Asnawi yang telah lama meninggal ketika bapak masih kecil. Nenek saya-Almarhumah Hj. Nasifah-mempunyai 7 orang anak yang semuanya adalah laki-laki. Semuanya hidup dengan seadanya dan berjuang sendiri-sendiri memenuhi kebutuhannya masing-masing. Tekanan ekonomi yang keras membuat bapak saya hidup mandiri dalam bertahan hidup. Ini terbukti sampai sekarang, walaupun dengan pendidikan setingkat SD, bapak saya bisa menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya, bahkan sampai perguruan tingi dengan biaya sendiri. Sehari-hari dalam perjuangan bapak mencari nafkah untuk keluarga, beliau didampingi oleh Ibu saya yang memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi, yaitu lulusan SMA. Ibu seakan menjadi penasehat bagi bapak yang memang agak emosional dan kurang pertimbangan, tidak jarang karena perbedaan pendapat keduanya berselisih. Saya dan saudara-saudara saya menganggap hal itu adalah hal yang sangat wajar dalam berumah tangga, yang jelas, segala keputusan besar dalam keluarga kami adalah keputusan yang terbaik, karena melalui berbagai perdebatan panjang, bahkan oleh kami sendiri sebagai anak-anak mereka. Di rumah, saya juga ditemtani oleh dua saudara yang sangat lucu dan sangat strategis untuk menjadi sasaran gurauan saya, sebut saja namanya Khumrotun Nadhifah dan Siti Mu’amaroh. Gara-gara mereka, saya dibuat menjadi jengkel dan sering kali juga dibuatnya tertawa, walaupun kini mereka berdua sudah dewasa.
  
Masa Kanak-Kanak yang Biasa Saja
Dua  Tahun lamanya, mulai Tahun 1993 sampai dengan Tahun 1995 saya menghabiskan waktu di RA (Roudhotul Athfal) “Muslimat Salafiyah” Mandirejo-Merakurak. Disana bersama guru-guru yang sabar, saya belajar bernyanyi, berhitung, menulis dan sebagainya. Masa kecil saya terkesan biasa-biasa saja, karena karakter saya memang seperti itu, hanya saja ada beberapa kenangan menarik ketika di sekolah. Saya pernah bertengkar dengan teman sekelas, sampai-sampai anak itu terjatuh di sungai depan sekolah. Selain itu juga tidak jarang saya berak dicelana, sehingga membuat para guru kebingungan. Disana saya banyak bersahabat dengan teman-teman se-daerah, yang dulunya lucu-lucu dan kampungan, sekarang sudah sama-sama dewasa dan berkarir.
Setelah selesai menempuh pendidikan pra-sekolah, saya meneruskan di yayasan yang sama, yaitu Yayasan “Salafiyah” Mandirejo Merakurak. Yayasan ini adalah yayasan keluarga yang didirikan oleh Almarhum K.H. Abdussalam. Yayasan ini terhitung yayasan yang paling besar di Kecamatan Merakurak.  Lembaga pendidikan yang dinaunginya antara lain; RA “Muslimat Salafiyah”, MI “Salafiyah”, MTs. “Salafiyah”, MA. “Salafiyah” dan Pon.Pes. “Nurul Jadid”. Selama kurang lebih 6 Tahun, mulai tahun 1995 sampai dengan Tahun 2001 saya menghabiskan waktu bersekolah di MI Salafiyah yang terletak di depan sekolah TK saya ini. Jadi, masa kecil saya sangat akrab dengan wilayah Desa Mandirejo sebelah selatan ini. Di MI ini, prestasi saya di kelas tidak terlalu buruk, beberapa kali mulai kelas 1 sampai dengan kelas 6 saya sering mendapat peringkat 2, 3 dan sesekali peringkat 1. Kalau boleh saya sebut beberapa nama, ada yang menjadi saingan berat saya di kelas, yaitu Achmad Nahrowi, Dewi Widayanti, Anik Sholikhah dan yang lainnya. Semuanya menjadi pemacu semangat saya untuk terus berjuang hingga dapat menyaingi mereka, walau berat rasanya, karena saya selalu berada di peringkat yang lebih rendah dari mereka.

“Diniyah Darul Ulum”; Pendidikan Agama Tingkat Dasar
            Darul Ulum” awalnya adalah sebuah musholla panggung kecil yang terbuat dari papan kayu, terletak di Dusun Banggel.  Di sana ada Kyai yang sangat kharismatik dan tradisional, nama beliau adalah K.H. Ahmad Jailani. Banyak santri yang belajar di sana setelah keluar menjadi orang yang alim. Kemudian, pada saat saja kelas II MI, beliau wafat. Pembelajaranpun dilanjutkan oleh putra beliau, K. Ahmad Irhamni, yang juga adalah alumni Pon.Pes Sarang Jawa Tengah, sama dengan ayah handanya. Awalnya saya belajar membaca al-Qur’an di sini ketika masih kelas satu madrasah Ibtidaiyah atas bimbingan K.H. Jailani, akan tetapi tidak diajar langsung oleh beliau, melainkan santrinya yang lebih senior. Akan tetapi, karena tidak kunjung dinaikkan ke surat yang lebih tinggi, maka saya merasa agak kurang nyaman, akhirnya saya pinda ke musholla di sebelahnya. Di sini saya belajar bersama teman-teman atas bimbingan Ustad Mulyanto. Beliau adalah murid K.H. Jailani dan yunior dari K. Ahmad Irhamni selama di pesantren, akan tetapi secara keilmuan, beliau juga tidak kalah. Akhirnya, di sini saya belajar membaca al-Qur’an, tajwid, aqidah, fiqh, dan akhlaq. Kitab-kitab yang dikaji sangat  dasar, karena memang untuk pemula, antara lain safinah al-najah, sullam safinah, sullam taufiq, aqidah al-awwam, ta’lim al-muta’allim dan amtsilah al-tashrifiyyah. Semua kitab tersebut dikaji sampai khatam, mulai saya kelas II MI sampai kelas I SMP, selain untuk pelajaran ta’lim al-muta’allim dan tashrifan, karena Ustad Mulyanto harus menikah dan pindah ke rumah isrinya. Akhirnya, saya pindah kembali ngaji ke Darul Ulum yang pada saat itu sudah banyak kemajuan. Karena seiring dengan kemajuan zaman, musholla yang kecil itu telah berubah menjadi lebih megah dan indah serta terbuat dari tembok batu berlantaikan keramik. Selain itu, statusnya juga telah berubah, yang semula hanya mushola tempat mengaji biasa menjadi sebuah lembaga pendidikan resmi, terdiri dari TPQ dan Diniyah. Akhirnya, mulai separo masa SMP saya sampai dengan masa Aliyah selesai, saya menimba ilmu di sini di bawah asuhan K. Ahmad Irhamni dan para guru yang lainya. Sebetulnya banyak sekali kitab yang dikaji, akan tetapi karena belum adanya struktur kurikulum yang memadai, maka banyak kitab tidak dipelajari secara tuntas. Setiap tahun ajaran berakhir, pelajaran pun berganti, padahal beberapa kitab belum tuntas diajarkan. Akan tetapi, pelajaran yang paling berkesan di sini adalah, fiqih dengan kitabnya al-mabadi’ al-fiqhiyyah juz 1-4 dan sullam al-taufiq. Kemudian pelajaran shorof dengan kiabnya al-amtsilah dan al-maqsud, pelajaran nahwu dengan kitabnya matan al-jurumiyyah, al-‘awamil dan tafrihah al-wildan. Meskipun tidak terlalu banyak, tapi itu cukup membuat saya untuk berani melanjutkan kuliah di perguruan tinggi agama dan bersaing dengan teman-teman dari pesantren lainnya, walaupun sangat jauh dari harapan.

Amanah Datang Menjelang Remaja
Pada Tahun 2001, saya lulus dari MI (Madrasah Ibtida’iyah), artinya sekolah pada jenjang yang lebih tinggi dimulai. Agaknya, pada pendidikan tingkat menengah ini, saya disekolahkan di sekolah umum yang berbeda dengan kultur sekolah sebelumnya. Seperti pada umumnya, 3 Tahun saya menempuh pendidikan menengah mulai Tahun 2001-2004, di SMP (Sekolah Menengah Pertama) Negeri 1 Merakurak yang beralamat di Desa Tuwiri Kulon Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban. Sepertinya, label sekolah negeri menjadi tujuan orang tua saya. Di sekolah ini, prestasi akademik saya lumayan di Tahun pertama. Hal itu dikarenakan belum ada pembagian kelas pararel sesuai dengan peringkat nilai, jadi saingan saya tidak punya banyak saingan. Selama satu tahun itu saya selalu mendapat peringkat yang pertama. Berbeda di kelas berikutnya sampai lulus, peringkat pertama hanya saya dapatkan di semester pertama pada kelas VIII, selebihnya saya tidak pernah mendapat peringkat dua besar, apalagi pada hasil ujian, saya harus puas dengan peringkat ke 9 pararel. Pengalaman akademik saya tidak terlalu sukses di tingkat SMP ini, akan tetapi ada pengalaman yang tidak ternilai berharganya ketika saya belajar disini, yaitu saya terpilih menjadi ketua OSIS SMPN 1 Merakurak Tahun 2002-2003 membawahi sekitar 300-an siswa. Di sini, saya mendapat pengalaman pertama kali berorganisasi dan menjadi pemimpin, walaupun masih dituntun oleh Pembina. Pembina OSIS saya waktu itu adalah Bapak Witono, M.Pd, sesosok orang yang cerdas dan bersahaja. Beliau menuntun saya yang tidak bisa apa-apa mulai dari memimpin rapat, membuat program kerja, belajar berbicara di depan umum, latihan baris-berbaris, membuat laporan dan lain sebagainya. Selain aktif di OSIS, saya ada aktifitas lainnya juga di Pramuka Gugus Depan SMPN 1 Merakurak dengan menjadi Dewan Kerja Galang (DKG). Kedua aktifitas di luar jam pelajaran tersebut tidak jarang menyita waktu saya belajar di kelas dan di rumah. Karena memang kemampuan intelegensi saya yang rendah, kegiatan itu menjadi berpengaruh pada prestasi belajar saya, semua pelajaran menjadi tidak maksimal. Jujur saja, dengan mentalitas yang masih labil, posisi itu menjadikan beban berat bagi saya antara mendapatkan nilai baik dalam pelajaran dan melaksanakan tanggung jawab selama di OSIS atau Pramuka yang menjadi sorotan banyak guru. Tapi itu semua tidak menjadi masalah, karena sekarang baru saya sadari bahwa itu adalah proses menuju kedewasaan diri dan kematangan berpikir.
Rentang Tahun 2004-2007 adalah masa dimana saya menempuh pendidikan di jenjang menengah atas. Sekedar cerita saja, pilihan untuk sekolah di Madrasah Aliyah Negeri Tuban (MAN Tuban) adalah sebuah pilihan yang tanpa sengaja. Sekolah di SMP mengkonstruk pikiran saya untuk melanjutkan terus di sekolah umum yang bonafid, begitu juga orang tua saya. Tapi takdir berkata lain, setelah kesana-kemari mendaftar ke SMA-SMA terfaforit, ternyata posisi saya selalu tergeser, akhirnnya tidak ke-terima. Pada masa itulah di MAN Tuban masih membuka pendaftaran siswa baru, di saat yang lain sudah menutup masa penerimaan siswa baru. Berat rasanya ditolak di sekolah-sekolah favorit, tapi harus saya terima karena itu sebagai konsekuensi atas prestasi saya yang kurang memadai. Begitulah, hingga saya diterima di MAN Tuban, sekolah umum plus dengan pendidikan agama Islam yang diberikan. Apabila di kalkulasi, beban pelajaran dan belajar disini lebih berat dibandingkan dengan sekolah umum (SMA), disini pelajaran agamanya terbagi ke dalam beberapa bidang studi, antara lain Fiqih, Aqidah Akhlaq, Sejarah Kebudayaaan Islam, Bahasa Arab dan Keterampilan Agama. Sedangkan di SMA hanya diajarkan dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang didalamnya terdapat semua sub mata pelajaran tersebut dan itupun sangat kurang.
Hal yang tidak terlupakan adalah terpilihnya saya menjadi ketua OSIS yang ke-dua kalinya setelah meyelesaikan tugas yang sama pula di SMP. Di MAN Tuban ini, jumlah siswa anggota OSIS lebih banyak, yaitu sekitar 800-an siswa, tentu saja masalah yang saya hadapi lebih kompleks. Berbeda dengan SMP, di sini saya benar-benar merasakan bagaimana mengelola organisasi yang sesungguhnya. Peran pembina dan guru-guru yang lain adalah sebatas komunikasi dan koordinasi, sedangkan mulai dari konsep dan teknis sampai evaluasi kegiatan semuanya dilakukan oleh pengurus OSIS. Selain berproses di OSIS, pramuka menjadi wadah tempat saja berdialektika. Dalam tingkat sekolah menengah atas, organisasi kepramukaannya adalah DKA (Dewan Kerja Ambalan) sebagai pengkaderan lanjutan dari DKG (Dewan Kerja Galang) yang ada di tingkat SMP. Berproses di dua organisasi ini memberikan beribu pengalaman yang sangat berharga, khususnya dalam manajemen sebuah organisasi. Di samping itu, banyak kerja sama yang kami lakukan dengan sekolah-sekolah lain dan beberapa instansi. Semua interaksi itu menjadikan relasi yang luas bagi saya baik di internal MAN Tuban ataupun di luar sekolah. Akan tetapi, sebagaimana sunnatullah, ada baik pasti ada buruknya, ada lebih pasti ada kurangnya, ada positif pasti ada negatif. Begitu pula di sini, di samping hal-hal yang saya sebutkan di atas, ada pula dampak negaifnya, terutama dalam prestasi akademik saya. Keterbatasan IQ bukan menjadi alasannya, karena betapapun rendah dan tinggi kecerdasan kita, itu adalah merupakan anugerah dari Tuhan. Kalau kita menyalahkan IQ kita yang terbatas, itu sama halnya dengan kita tidak mensyukuri anugerah Tuhan. Hal yang menjadi tugas dan tanggung jawab kita adalah bagaimana mengembangkan anugerah Tuhan ini dengan rajin dan tekun belajar, baik secara teoritik dan praktik yang ditunjang dengan al-akhlaq al-karimah dalam menuntut ilmu. Jadi, kemerosotan prestasi saya di kelas XI IPA 1 dahulu adalah karena tidak seimbangnya kesungguhan belajar saya dengan padatnya aktifitas di organisasi. Pada saat itu saya mendapat peringkat ke-40 pararel dari 42 siswa di kelas, berarti nilai saya adalah nomor tiga terbaik dari bawah, hal ini bagaikan pukulan telak bagi saya yang membuat badan serasa jatuh tersungkur. Akan tetapi, ada sebuah motivasi yang masih terniang di telinga saya, yaitu pesan dari Bu Latifatul Auniyah yang juga wali kelas saya, berpesan pada saya: “Rouf, kamu nanti kelas XII (kelas dua belas) sudah tidak menjabat sebagai ketua OSIS, maka harus lebih rajin belajar”, dengan pandangan yang sayup beliau mengatkan hal itu. Artinya, kemunduran prestasi yang saya alami ini sudah sangat parah dan di luar batas. Pada saat itu, saya masih harus menyelesaikan separuh masa jabatan sebagai ketua OSIS, jadi tantangan saya berikutnya adalah bagaimana meningkatkan prestasi belajar dan meyelesaikan masa jabatan saya dengan husn al-khotimah. Setelah melalui perjuangan yang keras, akhirnya buah manis saya dapatkan, pada semester pertama di kelas XII IPA 1, prestasi saya meningkat hingga mendapatkan peringkat ke-8 dari 42 siswa, prestasi yang lumayan bagus untuk sebuah persaingan di kelas unggulan kala itu. Selain itu pada semester ini pula saya menyelesaikan LPJ (Laporan Pertanggungjawaban) saya di OSIS dengan akhir yang baik, tanpa adanya hujan interupsi. Karena daftar nilai semester pertama ini juga akhirnya menghantarkan saya masuk kuliah di IAIN Sunan Ampel Surabaya memalui jalur PMDK (jalur penerimaan mahasiswa dengan prestasi) tanpa tes. 

Setelah Tamat Aliyah
Kuliah di kampus IAIN Sunan Ampel Surabaya bukanlah sesuatu yang telah terencana dengan rapi, akan tetapi walaupun tanpa perencanaan yang matang, kampus itu menjadi tempat dimana seluruh konsepsi pemikiran dan mental saya terbentuk. Berawal dari sebuah brosur yang ditempelkan di papan pengumuman kelas, saya tertarik untuk membacanya, brosur tersebut besar dan di dalamnya terpampang deskripsi semua fakultas. Sebuah kampus yang dimata anak-anak-yang mengaku modern saat ini-dianggap kuno dan tidak marketable. Ya, hal itu betul sekali, bahkan telinga saya sangat sering mendengar bahwa kata orang-orang, lulusan kampus tersebut hanya bisa mencetak kadernya menjadi Modin (pemimpin ritual keagamaan di masyarakat Desa). Kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya, itulah namanya. Setelah saya menjalani perkuliahan selama kurang lebih 4 Tahun, akhirnya saya sadari bahwa anggapan mereka itu salah. Berikut ini akan saya ceritakan bagaimana perjalanan perkuliahan saya.

Belajar di Kampus Basis-nya Kaum Tradisional
Pada waktu akhir ujian, saya menyiapkan berkas untuk mendaftar PMDK (pendaftaran dengan jalur prestasi tanpa tes)  di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Saya mendaftar bersama teman setia saya, yaitu Ahmad Saifuddin-seorang teman selalu menemani setiap perjalanan saya. Dalam penentuan pilihan jurusan, saya berpedoman pada minat dan bakat akademik, serta hasil tes psikologi yang telah diselenggarakan sekolah. Melalui pertimbangan tersebut, maka saya putuskan untuk memilih jurusan bahasa, hal itu dikarenakan hasil tes psikologi menunjukkan bahwa, bakat terbaik saya adalah di bidang bahasa dan menurut prestasi raport saya, di bidang IPA nilai-nilai saya kurang baik. Hal itu sangat kontras, melihat jurusan yang saya ambil di bangku SMA adalah ilmu pasti (IPA), jadi selama 2 Tahun saya mempelajari dan mendalami ilmu pasti, terutama “matematika”. Kebingungan yang lain muncul, yaitu ketika saya harus memilih bahasa apa yang harus saya utamakan. Akan tetapi, kalau di lingkungan IAIN, jurusan bahasa hanya ada 2, yaitu bahasa Arab dan bahasa Inggris. Untuk bahasa Arab, jurusan yang dibuka adalah PBA (Pendidikan Bahasa Arab) di Fakultas Tarbiyah dan BSA (Bahasa dan Sastra Arab) di Fakultas Adab. Sedangkan untuk bahasa Inggris jurusannya adalah PBI (Pendidikan Bahasa Inggris) di fakultas Tarbiyah, dan untuk jurusan Sastra Inggris belum dibuka saat itu. Pilihan saya langsung tertuju pada pada bahasa Arab, karena mengingat pelajaran di Aliyah tidak terlalu rumit dan ruwet seperti “matematika, fisika dan kimia”. Kemudian pilihan saya jatuhkan pada Fakultas Tarbiyah, karena memang sejak kecil ingin menjadi guru, selain itu saya juga bukan alumni pesantren yang mendapatkan materi bahasa Arab yang lengkap dan sistematis, bisa dikatakan bahasa Arab yang saya ketahui adalah bahasa Arab karbitan. Ya, pikiran saya masuk di PBA akan lebih mudah saya jalani dari pada masuk di jurusan BSA.
Waktu terus berjalan dan satu-demi satu mata kuliah saya lalui. Di sana, saya bertemu dengan banyak teman yang mayoritas adalah lulusan dari pondok pesantren bertahun-tahun lamanya, sekelas Gontor, Tebuireng, Madrosatul Qur’an, Tambakberas, Mamba’us Sholihin, Lirboyo, Sidogiri, Langitan, An-Nuqayah, Al-Amin dan lainnya.  Mulai dari Gus, Neng, Ustad, sampai yang sudah bergelar Kyai Muda. Dengan perjuangan yang sangat keras, semester demi semester saya jalani, dengan segala kesulitan yang saya alami, ternyata saya sadar bahwa basic bahasa Arab yang saya miliki sangatlah jauh dari yang diharapkan. Sebagaimana pada ilmu kebahasaan lainnya, ada empat maharah (keterampilan) yang harus dikuasai, yaitu istima’, kalam, qiro’ah dan kitabah. Dalam jurusan PBA kita dituntut untuk dapat menguasai keempat maharah tersebut dan menguasai metode atau cara untuk mengajarkannya kepada para siswa nantinya. Masalahnya adalah, di kampus kita tidak lagi dianggap sebagai santri yang lugu dan belum mengerti apa-apa, akan tetapi kita sudah dianggap mampu dan mahir dalam bahasa Arab sesuai standar lulusan pesantren. Di pesantren pada umumnya, sudah diajarkan sampai khatam kitab al-Maqsud, al-Jurumiyyah, al-‘Imrithi, Alfiyah, Balaghah, Mantiq dan lain sebagainya, selain itu mereka juga sudah lancar sekali dalam bercakap-cakap dengan bahasa Arab. Hal itu semakin menyiutkan nyali saya untuk bersaing dengan mereka. Semua saya jalani dengan sekuat tenaga dan seakan berlari mengejar ketertinggalan. Akan tetapi saya hanya bisa bersyukur, dalam empat Tahun saya bisa menyelesaikan studi ini, walaupun hampir saja saya tidak bisa lulus tepat pada semester 8. Hal itu dikarenakan saya terlambat menyelesaikan skripsi tepat waktu dan harus membayar biaya registrasi semester 9.
Mulai di bangku kuliah inilah pola pikir saya mulai terkonsepsi dengan baik dan seakan memiliki tujuan hidup yang jelas. Semenjak itu, saya mulai memantapkan diri untuk membaktikan diri saya di bidang pendidikan  dan khususnya pada pendidikan bahasa Arab. Oleh karena itu, saya bertekad untuk terus melanjutkan studi di bidang keilmuan pendidikan dan tentunya juga terus memperdalam ilmu bahasa Arab sedalam dan sejauh apa yang saya bisa sampai nafas ini berhenti berhembus. Kemudian hal lain yang saya dapatkan selain di bangku kuliah adalah mulai bersentuhannya kepala ini dengan pemikiran tokoh-tokoh nasional maupun dunia yang menjadi inspirasi bagi saya dalam mengambil langkah kehidupan ini. Hal ini semuanya tidak saya dapatkan di bangku kuliah, akan tetapi saya dapatkan di diskusi-diskusi ringan dan berbagai seminar di luar bangku kuliah. 

Aktifitas di Luar Jam Kuliah
Saya sangat berterima kasih kepada PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), karena disinilah saya pertama kali merasakan dentuman semangat untuk menggali dan mencari kebenaran yang haqiqi, serta belajar beberapa pemikiran modern Islam yang merupakan ramuan dari ilmu-ilmu keIslaman dengan filsafat dan ilmu-ilmu sosial. Walaupun proses pengkaderan yang saya alami tidak karuan, tapi saya tetap memelihara idealisme yang mulai terbentuk disana, sampai kapanpun. Saya bergabung di PMII mulai dari semester pertama perkuliahan, segala kegiatan saya ikuti dengan lengkap dan rutin. Sebut saja beberapa teman setia yang menemani saya berproses di sini, khususnya angkatan ‘07 “STRESS”, yaitu Arif ‘Asy’ary, Khorul Hidayah, ‘A’yunul Fauziyah, Muhammad Najib, Kendhi Ardiansyah, A. Rifa’i Hamzah, Arqom Hidayat, ‘A’yun Bongki’, Dias, Atik Zuhriyah, Agung dan lain-lain. Merekalah yang selalu memberikan inspirasi bagi saya untuk selalu berpikir dan tidak berhenti untuk bertanya, walaupun tidak jarang mereka berpikir nakal dan berani. Selain itu, yang paling besar pengaruhnya adalah bimbingan para senior, antara lain Cak Iqbal, Cak Umam, Cak Asep, Cak Junaidi, Cak Masyhuri, Cak Suhadi dan lain sebagainya. Di samping di PMII, saya juga banyak menghabiskan waktu di organisasi P3SDM (Pusat Pelatihan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia), menjadi pengurus Ormada (Organisasi Mahasiswa Daerah) Tuban IMARO (Ikatan Mahasiswa Ronggolawe di IAIN) dan FKMRT (Forum Komunikasi Mahasiswa Ronggolawe di Surabaya), dan sibuk menjadi pengurus Pondok Pesantren Mahasiswa “Al-Jihad” Surabaya.  Akan tetapi pada dua tahun terakhir menjelang saya lulus, aktifitas itu hampir saya tinggalkan seluruhnya. Karena memang dengan kemampuan bahasa Arab yang pas-pasan, sulit rasanya menyelesaikan skripsi yang kesemuanya ditulis dalam bahasa Arab. Oleh karena itu, keputusan ini harus saya ambil agar tujuan awal saya belajar di bangku kuliah tidak kandas di tengah jalan, meskipun berbagai hujatan dan teguran miring saya dapatkan.


Copyright © 2009 TANPA BATAS All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.